Penjelasan Ilmiah Mengenai Api Dingin

Sebagaimana sudah diketahui semua orang, api bersifat sangat panas. Seseorang seharusnya jangan coba-coba menyentuh api, karena api dapat membakar apapun yang terlalu dekat. Jika kulit manusia menyentuh api, kulit dapat terbakar, yang dapat membutuhkan waktu lama untuk pulih.

Cool flame ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 1810-an oleh Sir Humphry Davy. (Pixabay)
Api bersifat panas karena energi yang tersimpan dalam bahan bakar dilepaskan secara tiba-tiba. Panas nyala api itu sendiri membuat bahan bakar berada pada suhu penyalaan, sehingga terus menyala selama ada bahan bakar dan oksigen di sekitarnya. Tetapi hukum fisika pada api ternyata memiliki keanehan, karena terdapat api yang tidak panas, tidak membakar, bahkan memiliki suhu dingin. Api dingin secara tidak sengaja ditemukan pada tahun 1810-an oleh Sir Humphry Davy. Saat itu ia sedang memasukkan kawat platinum panas ke dalam campuran udara dan uap dietil eter. Pembakaran eter dilakukan dalam gelap. Setelah itu cahaya berpendar pucat muncul di atas kawat.

Sir Humphry Davy memperhatikan bahwa jenis api tertentu tidak membakar jari-jarinya, tidak pula menyalakan korek api. Dari pengamatan juga ditemukan bahwa api yang tidak biasa itu dapat berubah menjadi api konvensional. Harry Julius Emeléus adalah orang pertama yang merekam spektrum emisi pada api dingin. Pada tahun 1929 ia menciptakan istilah "cool flame".

Allah SWT berfirman sebagai berikut:

Mereka berkata: "Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak". Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim". [Surat Al-Anbiya Ayat 68 – 69]

Ayat diatas menceritakan mengenai perdebatan secara terbuka antara Nabi Ibrahim (as) dengan masyarakat penyembah berhala. Ketika argumen mereka dibantah, ketika ketidakmampuan mereka menjadi jelas, ketika kebenaran terbukti dan ketika kepalsuan dikalahkan, mereka menggunakan kekuasaan dan pengaruh mereka, lalu berkata:
حَرِّقُوهُ وَانصُرُواْ ءَالِهَتَكُمْ إِن كُنتُمْ فَـعِلِينَ
(bakar dia dan bantu dewa-dewamu, jika kamu mau). Maka mereka mengumpulkan kayu dalam jumlah besar. As-Suddi berkata, "Mereka membuat lubang di tanah dan menyalakannya. Lubang itu terbakar dengan percikan api besar dan semakin bertambah besar. Tidak pernah ada api seperti itu sebelumnya."

Ketika mereka melemparkan Ibrahim (ra) dia berkata, "Cukuplah bagiku Allah, dan Dia adalah yang terbaik dalam segala urusan." Sa`id bin Jubayr meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas (ra) berkata: "Ketika Ibrahim (ra) hendak dilemparkan ke dalam api, penjaga (malaikat) hujan berkata: 'Kapan aku akan diperintahkan untuk mengirim hujan?' Tetapi perintah Allah lebih cepat. Allah SWT berfirman:
ينَارُ كُونِى بَرْداً وَسَلَـمَا عَلَى إِبْرَهِيمَ
(Hai api! Jadilah kamu sejuk dan aman untuk Ibrahim!). Ibnu 'Abbas dan Abu Al-'Aliyah berkata: "Kalau bukan karena fakta bahwa Allah berfirman ,
وَسَلَـماً
(dan aman), Ibrahim (ra) akan mendapat bahaya oleh dingin dari api itu."

Cool flame dapat terjadi dalam hidrokarbon, alkohol, alkanal, minyak, asam, wax, dan metana. Suhu terendah dari api dingin tergantung pada perbandingan antara bahan bakar dan oksigen. Selain itu, cool flame sangat tergantung pada tekanan gas. Berbeda dengan nyala api konvensional yang cenderung kuning atau merah, nyala pada api dingin biasanya berwarna biru pucat.

Eksperimen berikut menunjukkan bahwa api dingin bisa diuji secara ilmiah:


Pengujian menggunakan helium sebagai bahan bakar. Helium dikenal sebagai elemen kimia yang memiliki titik didih yang rendah. Selain helium, ada nitrogen yang dapat ditemukan di atmosfer. Elemen kimia ini memiliki titik didih sangat rendah ( -196 derajat Celcius). Nitrogen alami biasanya berbentuk gas, tetapi dalam kasus tertentu bisa juga ditemukan dalam bentuk cair. Nitrogen gas umumnya tidak berbahaya dan tidak berbau, sedangkan Nitrogen cair berbahaya karena mengembang ketika terkena suhu tinggi.

Ada kemungkinan bahwa cool flame bisa terjadi pada nyala api yang penuh dengan jelaga. Mengingat bahwa partikel-partikel pembakaran pada api yang penuh jelaga merupakan materi berukuran besar, Anda akan melihat partikel-partikel jatuh setelah dituangkan nitrogen cair di atasnya. Partikel-partikel tersebut jatuh karena menjadi dingin dan tidak lagi terangkat sebagai udara panas yang dihasilkan oleh pembakaran. Terkadang fenomena seperti ini terjadi secara alami setelah gunung berapi atau kebakaran hutan. Partikel-partikel besar kayu terbakar dan naik selama peristiwa terjadi, kemudian jatuh setelah pendinginan untuk membentuk selimut jelaga.

Terdapat perbedaan reaksi kimia antara api konvensional dan api dingin. Pada api konvensional, molekul-molekul terurai menjadi fragmen-fragmen kecil lalu bergabung dengan oksigen yang menghasilkan karbon dioksida (yaitu terbakar). Adapun pada cool flame, fragmen-fragmen tersebut relatif besar dan mudah bergabung kembali satu sama lain. Karenanya, lebih sedikit panas, cahaya, dan karbon dioksida yang dilepaskan. Peningkatan suhu pada penyalaan api konvensional dapat mencapai 1000 ° C, sedangkan peningkatan suhu pada api dingin hanya beberapa puluh derajat Celcius. Wallaahu a’lam bishawaab.

Sumber:

Howstuffworks - What is Fire?

Quranx - Tafsir Ibnu Katsir.

ThoughtCo - Why Is Fire Hot? How Hot Is It?

UCSB - Can liquid nitrogen freeze fire?

Wikipedia - Cool flame & Fire.