Umat Muslim akan menanggung banyak cobaan sepanjang hidup mereka. Allah Swt menguji kita dengan kesulitan dan juga kekayaan untuk membuktikan keikhlasan iman kita. Dalam semua kasus, cobaan hidup membawa kebaikan bagi mukmin sejati. Jika seseorang diuji dengan kekayaan kemudian dia bersyukur, dia akan menerima pahala. Jika seseorang diuji dengan kesulitan kemudian dia tetap sabar, dia akan menerima pahala.
Salah satu manfaat dari adanya ujian keimanan jika berhasil melaluinya adalah meningkatnya nilai-nilai spiritual dalam diri kita. Ada beragam ujian keimanan yang sering kita dengar atau mengalami dalam kehidupan sehari-hari. Tulisan berikut membahas ujian keimanan yang tidak lazim yaitu sungai. Bukan, bukan berupa bencana alam seperti sungai meluap. Ujian keimanan yang dimaksud dijelaskan dalam al-Qur'an sebagai berikut:
Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: "Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku". Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: "Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya". Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar". [Surat Al-Baqarah Ayat 249]
Tafsir Ibn Kathir menyebutkan bahwa setelah era Nabi Musa (as), Bani Israel diserang dan dikalahkan oleh musuh mereka (bangsa Filistin). Thalut, raja Bani Israel, berangkat untuk berperang bersama orang-orang Israel yang mematuhinya. Jumlah pasukannya ketika berangkat adalah delapan puluh ribu saat itu, menurut As-Suddi. Sumber lain menyebutkan bahwa Thalut (Saul) memimpin pasukan sebanyak 33.000 orang. Di sisi lain, pihak musuh membawa pasukan 400.000 orang dengan persenjataan dan perlengkapan perang lebih baik dibandingkan dengan Bani Israel.
Dalam al-Quran (2: 249) menyebutkan bahwa Thalut (Saul) dan pasukannya mencapai sungai. Semua pasukan merasa sangat haus dan bergegas hendak meminum air sungai tersebut. Tetapi Thalut berkata:
"Hanya kalian yang tidak minum air sungai atau mengambil air seceduk tangan saja yang bisa menemaniku berperang melawan bangsa Filistin."
Perintah tersebut tentu saja tidak masuk akal karena ada banyak air di sungai, adapun orang-orang sangat kehausan. Namun itu adalah ujian keimanan dari Allah Swt dan hanya sedikit yang bisa melewatinya.
Menurut tafsir Ibn Abbas, pada saat menyeberangi sungai, pasukan Thalut yang patuh (tidak minum air sungai atau minum air seceduk tangan) berjumlah hanya 313, yang jumlahnya sama dengan pasukan Nabi Muhammad (Saw) dalam Pertempuran Badr. Orang-orang ini kuat karena mereka percaya pada Allah Swt, dan menaati-Nya sepenuhnya dengan ketulusan penuh. Mereka tahu bahwa walaupun mereka menyedihkan dalam jumlah dan perlengkapan perang, mereka memiliki Kekuasaan Allah Swt di pihak mereka.
Jika dirunut ke belakang, banyak orang-orang dari Bani Israel menolak untuk berperang menghadapi bangsa Filistin dengan berbagai alasan. Adapun golongan yang awalnya bersedia untuk berperang, sebagian menolak menerima kepemimpinan Thalut. Kemudian dari mereka yang awalnya berangkat berperang bersama Thalut, sebagian besar memilih kembali karena tidak tahan dengan rasa haus ketika melintasi sungai.
Apa hubungan minum air dari sungai dengan seberapa baik kemampuan seseorang di medan perang?
Asumsi dan penilaian manusia seringkali tidak sama dengan apa yang Allah nilai.
Sungai itu adalah "ujian kecil". Apakah kita memiliki disiplin untuk melaksanakan perintah kecil dari Allah? Jika seseorang tidak lulus ujian yang tampaknya tidak signifikan tersebut, bagaimana mereka akan sanggup menghadapi ujian yang lebih besar dengan konsekuensi yang lebih signifikan?
Abu Nuaym meriwayatkan sebagai berikut:
Ibrahim ibn Adham, semoga Allah merahmatinya, berkata, "Jihad yang paling sulit adalah jihad melawan keinginan. Siapa pun yang dapat menahan jiwanya dari keinginannya akan dibebaskan dari dunia dan cobaan-cobaannya, dan ia akan dilindungi dan selamat dari bahaya." (Ḥilyat al-Awliyā).
Sebagian besar dari kita menderita ketika segala sesuatunya tidak berjalan seperti yang kita rencanakan, atau ketika hidup yang kita alami berbeda dari harapan kita. Kesulitan hidup belum tentu merupakan azab; bisa jadi hal itu untuk menguji tekad, ketangguhan, dan kekuatan iman kita. Jika kita sabar, kesulitan hidup membawa banyak hal baik dalam mempelajari hikmah, mengembangkan potensi serta pengendalian diri.
Abu Hurairah (ra) meriwayatkan sebagai berikut:
Rasulullah (ﷺ) bersabda, "Hari kiamat tidak akan terjadi sebelum Sungai Eufrat mengering untuk mengungkap (keberadaan) gunung emas, di mana orang akan bertempur. Sembilan puluh sembilan dari seratus akan mati (dalam pertempuran) dan setiap orang di antara mereka akan berkata: 'Mungkin aku satu-satunya yang akan tetap hidup. "'
Narasi lain menyebutkan: "Hari kiamat sudah dekat ketika Sungai Eufrat akan mengering untuk mengungkap (keberadaan) harta emas. Siapa pun yang hidup pada waktu itu, tidak boleh mengambil apa pun dari harta emas tersebut." (Al-Bukhari dan Muslim dalam Riyad as-Salihin, Book 19, Hadith 1822)
Pada tahun 2009, Irak menderita salah satu kekeringan terburuk dalam beberapa dasawarsa. Meskipun kekeringan adalah berita buruk bagi petani, peristiwa tersebut adalah kabar baik bagi para arkeolog. Kekeringan tersebut mengakibatkan surutnya air Sungai Eufrat. Di wilayah Anbar, air yang surut mengungkap adanya peninggalan dari peradaban kuno. Menurut keterangan dari otoritas setempat, Anbar memiliki nilai sangat penting bagi sejarah peradaban manusia mengingat peradaban dimulai di Anbar, berdekatan dengan Sungai Eufrat.
Air sungai Eufrat di wilayah tersebut telah menyusut hingga 90 persen sejak musim panas. Pada saat itulah, para arkeolog menemukan sisa-sisa peradaban dari periode Sumeria hingga Romawi. Permukiman Yahudi kuno serta tebing dengan serangkaian makam pra-Kristen yang diukir juga ikut ditemukan. Meskipun kondisinya rata-rata sangat rusak oleh air, tetapi mereka masih memiliki nilai. Para arkeolog juga menemukan pecahan-pecahan tembikar di mana-mana. Pecahan tembikar itu diduga adalah parit irigasi era Romawi.
Menurut keterangan nelayan setempat, mereka telah menemukan artefak seperti guci tanah liat, kerangka, koin, dan bahkan beberapa perhiasan emas. Hal ini merupakan penemuan yang tidak terduga, meskipun menimbulkan kekhawatiran. Tempat mengeringnya air sungai Eufrat di wilayah Anbar sangat rawan dengan penjarahan. Untuk saat ini, penjarahan umumnya dilakukan oleh penduduk lokal yang tidak tahu nilai dari apa yang telah mereka ambil.
Selain emas dalam bentuk harta karun peninggalan peradaban kuno, emas yang dimaksud dalam Hadist di atas bisa juga berasal dari deposit mineral. Pada tahun 1999, penelitian yang dilakukan oleh Mustafa di area Ga’ara Depression menunjukkan bahwa sampel dari daerah itu mengandung konsentrasi emas yang memadai. Penelitian di atas didokumentasikan oleh Mazin M. Mustafa dan Faraj H. Tobia. Ga’ara Depression adalah cekungan oval yang terletak di dekat perbatasan Irak-Suriah yang terbentuk dari lapisan batu pasir dan batu lempung bergantian sekitar 300 juta tahun yang lalu. Lokasi Ga’ara Depression berada di Gurun Suriah (Bādiyat al-Shām) yang berdekatan dengan sungai Eufrat di sebelah timur.
Para pejabat Irak mengatakan bahwa kemiskinan mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam beberapa tahun terakhir. Tingkat kemiskinan mencapai angka tertinggi hingga 22,5% pada tahun 2016. Mengemis telah menjadi hal biasa di jalanan Baghdad, sebuah indikator kemiskinan yang meluas di Irak, negara dengan cadangan minyak terbesar kelima di dunia. Konflik dan sanksi ekonomi, kelumpuhan ekonomi Irak, penurunan tajam harga minyak, pengeluaran tak terkendali untuk perang melawan ISIS, tidak adanya perencanaan strategis serta maraknya korupsi keuangan dan administrasi, telah meninggalkan perbendaharaan Irak hampir kosong. Hingga tahun 2018, kemiskinan masih menjadi persoalan serius. Hal tersebut diperparah dengan kecurigaan terhadap pemerintah yang merajalela, mengakibatkan banyak warga Irak skeptis adanya perubahan nyata di masa mendatang.
Kesimpulan
Pasukan Bani Israel pada zaman Thalut dilarang minum air sungai yang berlimpah ketika mereka sangat kehausan. Sementara itu, umat Islam di Irak (dan umat Islam secara umum) dilarang mengambil harta karun emas tidak bertuan yang melimpah di sungai Eufrat ketika mereka sedang dilanda kemiskinan. Kita bisa melihat adanya persamaan antara dua kasus tersebut yaitu ujian keimanan dalam bentuk sungai.
Karena itu, umat Islam akan menanggung banyak cobaan sepanjang hidup seperti ditimpa bencana, penindasan dan kezaliman, termasuk mengekang keinginan terhadap suatu hal yang sangat dibutuhkan. Seorang Muslim harus tetap bersabar dengan perintah dan ketetapan Allah Swt selama ujian keimanan walaupun sering sulit untuk dilakukan. Mudah bagi kita untuk berbicara tentang bagaimana kita akan bertindak dalam situasi tertentu. Kita tidak tahu bagaimana kita akan bereaksi dalam situasi atau keadaan tertentu. Apa yang kita dapat dari ketekunan dan kerja keras sebagian besar tidak relevan jika dibandingkan dengan bantuan Allah (Swt). Wallaahu a’lam bishawaab.
Sumber:
AboutIslam - How Are Trials Defined?
Abuaminaelias - Patience with trials and tribulations in Islam.
Aljazeera - Poverty in Iraq among major issues in election campaigns.
Ibnabeeomar - 5 Leadership Lessons from the Quranic Story of Talut (Saul).
Muslimfootsteps - Talut and Jalut.
NPR - Drought Reveals Iraqi Archaeological Treasures.
ResearchGate - Geology of the Euphrates River with Emphasize on the Iraqi Part.
The Arab Weekly - Poverty in Iraq dramatically rises.
Urdu Time Online - Who were Talut and Jalut? Saul and Goliath.
Salah satu manfaat dari adanya ujian keimanan jika berhasil melaluinya adalah meningkatnya nilai-nilai spiritual dalam diri kita. Ada beragam ujian keimanan yang sering kita dengar atau mengalami dalam kehidupan sehari-hari. Tulisan berikut membahas ujian keimanan yang tidak lazim yaitu sungai. Bukan, bukan berupa bencana alam seperti sungai meluap. Ujian keimanan yang dimaksud dijelaskan dalam al-Qur'an sebagai berikut:
Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: "Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku". Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: "Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya". Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar". [Surat Al-Baqarah Ayat 249]
![]() |
| Ilustrasi pasukan bani Israel menyeberangi sungai. (Wikimedia) |
Dalam al-Quran (2: 249) menyebutkan bahwa Thalut (Saul) dan pasukannya mencapai sungai. Semua pasukan merasa sangat haus dan bergegas hendak meminum air sungai tersebut. Tetapi Thalut berkata:
"Hanya kalian yang tidak minum air sungai atau mengambil air seceduk tangan saja yang bisa menemaniku berperang melawan bangsa Filistin."
Perintah tersebut tentu saja tidak masuk akal karena ada banyak air di sungai, adapun orang-orang sangat kehausan. Namun itu adalah ujian keimanan dari Allah Swt dan hanya sedikit yang bisa melewatinya.
Menurut tafsir Ibn Abbas, pada saat menyeberangi sungai, pasukan Thalut yang patuh (tidak minum air sungai atau minum air seceduk tangan) berjumlah hanya 313, yang jumlahnya sama dengan pasukan Nabi Muhammad (Saw) dalam Pertempuran Badr. Orang-orang ini kuat karena mereka percaya pada Allah Swt, dan menaati-Nya sepenuhnya dengan ketulusan penuh. Mereka tahu bahwa walaupun mereka menyedihkan dalam jumlah dan perlengkapan perang, mereka memiliki Kekuasaan Allah Swt di pihak mereka.
Jika dirunut ke belakang, banyak orang-orang dari Bani Israel menolak untuk berperang menghadapi bangsa Filistin dengan berbagai alasan. Adapun golongan yang awalnya bersedia untuk berperang, sebagian menolak menerima kepemimpinan Thalut. Kemudian dari mereka yang awalnya berangkat berperang bersama Thalut, sebagian besar memilih kembali karena tidak tahan dengan rasa haus ketika melintasi sungai.
Apa hubungan minum air dari sungai dengan seberapa baik kemampuan seseorang di medan perang?
Asumsi dan penilaian manusia seringkali tidak sama dengan apa yang Allah nilai.
Sungai itu adalah "ujian kecil". Apakah kita memiliki disiplin untuk melaksanakan perintah kecil dari Allah? Jika seseorang tidak lulus ujian yang tampaknya tidak signifikan tersebut, bagaimana mereka akan sanggup menghadapi ujian yang lebih besar dengan konsekuensi yang lebih signifikan?
Abu Nuaym meriwayatkan sebagai berikut:
Ibrahim ibn Adham, semoga Allah merahmatinya, berkata, "Jihad yang paling sulit adalah jihad melawan keinginan. Siapa pun yang dapat menahan jiwanya dari keinginannya akan dibebaskan dari dunia dan cobaan-cobaannya, dan ia akan dilindungi dan selamat dari bahaya." (Ḥilyat al-Awliyā).
Sebagian besar dari kita menderita ketika segala sesuatunya tidak berjalan seperti yang kita rencanakan, atau ketika hidup yang kita alami berbeda dari harapan kita. Kesulitan hidup belum tentu merupakan azab; bisa jadi hal itu untuk menguji tekad, ketangguhan, dan kekuatan iman kita. Jika kita sabar, kesulitan hidup membawa banyak hal baik dalam mempelajari hikmah, mengembangkan potensi serta pengendalian diri.
Abu Hurairah (ra) meriwayatkan sebagai berikut:
Rasulullah (ﷺ) bersabda, "Hari kiamat tidak akan terjadi sebelum Sungai Eufrat mengering untuk mengungkap (keberadaan) gunung emas, di mana orang akan bertempur. Sembilan puluh sembilan dari seratus akan mati (dalam pertempuran) dan setiap orang di antara mereka akan berkata: 'Mungkin aku satu-satunya yang akan tetap hidup. "'
Narasi lain menyebutkan: "Hari kiamat sudah dekat ketika Sungai Eufrat akan mengering untuk mengungkap (keberadaan) harta emas. Siapa pun yang hidup pada waktu itu, tidak boleh mengambil apa pun dari harta emas tersebut." (Al-Bukhari dan Muslim dalam Riyad as-Salihin, Book 19, Hadith 1822)
Pada tahun 2009, Irak menderita salah satu kekeringan terburuk dalam beberapa dasawarsa. Meskipun kekeringan adalah berita buruk bagi petani, peristiwa tersebut adalah kabar baik bagi para arkeolog. Kekeringan tersebut mengakibatkan surutnya air Sungai Eufrat. Di wilayah Anbar, air yang surut mengungkap adanya peninggalan dari peradaban kuno. Menurut keterangan dari otoritas setempat, Anbar memiliki nilai sangat penting bagi sejarah peradaban manusia mengingat peradaban dimulai di Anbar, berdekatan dengan Sungai Eufrat.
![]() |
| Ilustrasi harta karun emas sungai Eufrat. (Pixabay) |
Menurut keterangan nelayan setempat, mereka telah menemukan artefak seperti guci tanah liat, kerangka, koin, dan bahkan beberapa perhiasan emas. Hal ini merupakan penemuan yang tidak terduga, meskipun menimbulkan kekhawatiran. Tempat mengeringnya air sungai Eufrat di wilayah Anbar sangat rawan dengan penjarahan. Untuk saat ini, penjarahan umumnya dilakukan oleh penduduk lokal yang tidak tahu nilai dari apa yang telah mereka ambil.
Selain emas dalam bentuk harta karun peninggalan peradaban kuno, emas yang dimaksud dalam Hadist di atas bisa juga berasal dari deposit mineral. Pada tahun 1999, penelitian yang dilakukan oleh Mustafa di area Ga’ara Depression menunjukkan bahwa sampel dari daerah itu mengandung konsentrasi emas yang memadai. Penelitian di atas didokumentasikan oleh Mazin M. Mustafa dan Faraj H. Tobia. Ga’ara Depression adalah cekungan oval yang terletak di dekat perbatasan Irak-Suriah yang terbentuk dari lapisan batu pasir dan batu lempung bergantian sekitar 300 juta tahun yang lalu. Lokasi Ga’ara Depression berada di Gurun Suriah (Bādiyat al-Shām) yang berdekatan dengan sungai Eufrat di sebelah timur.
Para pejabat Irak mengatakan bahwa kemiskinan mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam beberapa tahun terakhir. Tingkat kemiskinan mencapai angka tertinggi hingga 22,5% pada tahun 2016. Mengemis telah menjadi hal biasa di jalanan Baghdad, sebuah indikator kemiskinan yang meluas di Irak, negara dengan cadangan minyak terbesar kelima di dunia. Konflik dan sanksi ekonomi, kelumpuhan ekonomi Irak, penurunan tajam harga minyak, pengeluaran tak terkendali untuk perang melawan ISIS, tidak adanya perencanaan strategis serta maraknya korupsi keuangan dan administrasi, telah meninggalkan perbendaharaan Irak hampir kosong. Hingga tahun 2018, kemiskinan masih menjadi persoalan serius. Hal tersebut diperparah dengan kecurigaan terhadap pemerintah yang merajalela, mengakibatkan banyak warga Irak skeptis adanya perubahan nyata di masa mendatang.
Kesimpulan
Pasukan Bani Israel pada zaman Thalut dilarang minum air sungai yang berlimpah ketika mereka sangat kehausan. Sementara itu, umat Islam di Irak (dan umat Islam secara umum) dilarang mengambil harta karun emas tidak bertuan yang melimpah di sungai Eufrat ketika mereka sedang dilanda kemiskinan. Kita bisa melihat adanya persamaan antara dua kasus tersebut yaitu ujian keimanan dalam bentuk sungai.
Karena itu, umat Islam akan menanggung banyak cobaan sepanjang hidup seperti ditimpa bencana, penindasan dan kezaliman, termasuk mengekang keinginan terhadap suatu hal yang sangat dibutuhkan. Seorang Muslim harus tetap bersabar dengan perintah dan ketetapan Allah Swt selama ujian keimanan walaupun sering sulit untuk dilakukan. Mudah bagi kita untuk berbicara tentang bagaimana kita akan bertindak dalam situasi tertentu. Kita tidak tahu bagaimana kita akan bereaksi dalam situasi atau keadaan tertentu. Apa yang kita dapat dari ketekunan dan kerja keras sebagian besar tidak relevan jika dibandingkan dengan bantuan Allah (Swt). Wallaahu a’lam bishawaab.
Sumber:
AboutIslam - How Are Trials Defined?
Abuaminaelias - Patience with trials and tribulations in Islam.
Aljazeera - Poverty in Iraq among major issues in election campaigns.
Ibnabeeomar - 5 Leadership Lessons from the Quranic Story of Talut (Saul).
Muslimfootsteps - Talut and Jalut.
NPR - Drought Reveals Iraqi Archaeological Treasures.
ResearchGate - Geology of the Euphrates River with Emphasize on the Iraqi Part.
The Arab Weekly - Poverty in Iraq dramatically rises.
Urdu Time Online - Who were Talut and Jalut? Saul and Goliath.

