Istilah ilmiah untuk umat manusia yang hidup hingga saat ini adalah Homo Sapiens. Mereka muncul pertama kali Di Afrika. Berdasarkan makalah yang diterbitkan dalam Science pada 2 Agustus 2013, menunjukkan bahwa genetik "Adam" hidup antara 100.000 hingga 200.000 tahun yang lalu, adapun genetik "Hawa" hidup antara 100.000 hingga 150.000 tahun yang lalu. "Adam" adalah leluhur semua pria, sedangkan "Hawa" adalah leluhur semua wanita. Homo sapiens pertama berbagi karakteristik dengan populasi manusia modern seperti wajah yang lebih kecil, dagu yang menonjol, tengkorak bulat, dan dahi yang tinggi.
Selain manusia modern, terdapat "manusia" lain yang disebut Neanderthal. Mereka mendiami bumi lebih awal sekitar 400.000 tahun lalu. Interaksi Neanderthal dan manusia modern dapat dibuktikan berdasarkan temuan di Timur Tengah dan kesamaan genetik. Penelitian menunjukkan bahwa nenek moyang kita melakukan perkawinan silang dengan Neanderthal, tetapi kapan dan di mana pertemuan tersebut terjadi? Penemuan tengkorak manusia modern berusia 55.000 tahun di sebuah gua di Israel, menunjukkan bukti yang mendukung teori bahwa Neanderthal dan manusia modern melakukan perkawinan silang di Timur Tengah antara 50.000 hingga 60.000 tahun yang lalu. Tengkorak itu bisa jadi milik nenek moyang manusia modern yang kemudian mengisi seluruh Eropa dan Asia, menggantikan Neandertal. Temuan ini mendukung studi genetik sebelumnya. Analisis tahun 2010 misalnya, menunjukkan bahwa hingga 2% genom orang Eropa dan Asia saat ini terdiri dari DNA Neanderthal, tanda yang jelas tentang adanya perkawinan silang di masa lalu. Dua tahun kemudian, para ilmuwan membandingkan DNA purba yang diekstrak dari fosil Neandertal ke populasi manusia modern kontemporer di seluruh dunia, menyimpulkan bahwa perkawinan silang ini terjadi di Timur Tengah, kemungkinan besar antara 47.000 hingga 65.000 tahun yang lalu.
Pada tahun 2014, para peneliti berhasil menemukan fosil manusia modern berusia 45.000 tahun yang berada di Siberia. Fosil tersebut memiliki genom yang setelah diurutkan, memiliki setidaknya 2% DNA Neandertal. Temuan ini memungkinkan para peneliti untuk menyempurnakan kesimpulan mereka bahwa perkawinan silang terjadi sekitar 50.000 sampai 60.000 tahun yang lalu. Dari sisi Neanderthal, waktu dan tempat ini masuk akal. Hal ini karena banyak kerangka yang tertanggal pada periode waktu itu telah ditemukan di gua-gua di Israel dan bagian lain di Timur Tengah selama bertahun-tahun, adapun Neandertal masih tinggal di wilayah itu setidaknya hingga 49.000 tahun yang lalu.
Al-Qur'an menjelaskan hal ini dalam ayat berikut:
وَرَبُّكَ الْغَنِيُّ ذُو الرَّحْمَةِ ۚ إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَسْتَخْلِفْ مِنْ بَعْدِكُمْ مَا يَشَاءُ كَمَا أَنْشَأَكُمْ مِنْ ذُرِّيَّةِ قَوْمٍ آخَرِينَ
Dan Tuhanmu Maha Kaya lagi mempunyai rahmat. Jika Dia menghendaki niscaya Dia memusnahkan kamu dan menggantimu dengan siapa yang dikehendaki-Nya setelah kamu (musnah), sebagaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain. [Surat Al-An'am Ayat 133]
Jalalayn dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah Swt tidak bergantung kepada siapapun. Jika Dia mau, Dia dapat memusnahkan orang-orang kafir Mekkah. Kemudian mengganti mereka dengan makhluk-makhluk (مَا yang Dia kehendaki) untuk meneruskan kedudukan mereka. Hal itu sama seperti Ia menjadikan penduduk Mekkah dari keturunan orang-orang lain (qawmin akhariina), yang telah Ia musnahkan. Pendapat ini hampir sama dengan pendapat yang dikemukakan oleh Ibn Abbas ra.
Umat manusia sebagai makhluk berakal ditulis menggunakan kata ganti man (مَن) di dalam al-Qur'an. Man juga merupakan kata ganti relatif dan digunakan untuk merujuk hanya pada makhluk berakal saja. Adapun dalam ayat di atas, kata yang digunakan adalah maa (مَا). Maa memang dapat digunakan untuk merujuk pada makhluk berakal. Tetapi dalam penggunaan tertentu, maa secara spesifik merujuk pada makhluk tidak berakal (hewan, benda mati).
Neanderthal tidak pernah menciptakan bahasa tertulis, mengembangkan pertanian atau berkembang melampaui Zaman Batu. Pada saat yang sama, mereka memiliki otak yang sama besarnya dengan manusia modern. Pertanyaan tentang mengapa Homo Sapiens secara signifikan lebih cerdas daripada Neanderthal yang berotak sama besar — termasuk mengapa manusia modern bertahan hidup dan berkembang biak sementara Neanderthal punah — telah membingungkan para ilmuwan selama beberapa waktu. Sekarang, sebuah penelitian memberikan bukti sebagai penjelasan. Dilihat dari catatan arkeologi, Neanderthal beradaptasi dengan baik pada lingkungan khususnya, tetapi mereka tidak kreatif dalam hal strategi berburu atau karya seni. Sebagai contoh, mereka tidak membuat lukisan gua seperti yang dilakukan oleh manusia modern yang sezaman dengan mereka.
Persentase yang lebih besar dari otak Neanderthal tampaknya telah dikhususkan untuk visi dan kontrol terhadap tubuh mereka yang lebih besar. Pola perkembangan otak pada Neanderthal menunjukkan kecenderungan yang kurang untuk berkomunikasi melalui seni, dan mungkin juga membantu menjelaskan mengapa manusia modern memiliki keunggulan dibandingkan Neanderthal. Manusia modern menunjukkan kecenderungan memahami simbol, memahami makna, melihat dunia dengan cara tertentu. Hal semacam itu tidak terdapat pada Neanderthal.
Marc Hauser, direktur lab evolusi kognitif di Harvard University, telah mengidentifikasi empat kemampuan pikiran manusia yang mereka yakini sebagai inti dari sifat-sifat dan kemampuan "humaniqueness" kita yang membedakan manusia modern dari "manusia" lain di bumi. Empat kemampuan tersebut adalah: penghitungan generatif, kombinasi ide-ide yang tidak semestinya, penggunaan simbol-simbol mental, dan pemikiran abstrak. Ketika manusia modern terus berkembang hingga saat ini, Neanderthal punah sekitar 40.000 tahun yang lalu. Wallaahu a’lam bishawaab.
![]() |
| Neanderthal mendiami bumi lebih awal dari nenek moyang manusia modern, sekitar 400.000 tahun lalu. (Pixabay) |
Pada tahun 2014, para peneliti berhasil menemukan fosil manusia modern berusia 45.000 tahun yang berada di Siberia. Fosil tersebut memiliki genom yang setelah diurutkan, memiliki setidaknya 2% DNA Neandertal. Temuan ini memungkinkan para peneliti untuk menyempurnakan kesimpulan mereka bahwa perkawinan silang terjadi sekitar 50.000 sampai 60.000 tahun yang lalu. Dari sisi Neanderthal, waktu dan tempat ini masuk akal. Hal ini karena banyak kerangka yang tertanggal pada periode waktu itu telah ditemukan di gua-gua di Israel dan bagian lain di Timur Tengah selama bertahun-tahun, adapun Neandertal masih tinggal di wilayah itu setidaknya hingga 49.000 tahun yang lalu.
Al-Qur'an menjelaskan hal ini dalam ayat berikut:
وَرَبُّكَ الْغَنِيُّ ذُو الرَّحْمَةِ ۚ إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَسْتَخْلِفْ مِنْ بَعْدِكُمْ مَا يَشَاءُ كَمَا أَنْشَأَكُمْ مِنْ ذُرِّيَّةِ قَوْمٍ آخَرِينَ
Dan Tuhanmu Maha Kaya lagi mempunyai rahmat. Jika Dia menghendaki niscaya Dia memusnahkan kamu dan menggantimu dengan siapa yang dikehendaki-Nya setelah kamu (musnah), sebagaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain. [Surat Al-An'am Ayat 133]
Jalalayn dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah Swt tidak bergantung kepada siapapun. Jika Dia mau, Dia dapat memusnahkan orang-orang kafir Mekkah. Kemudian mengganti mereka dengan makhluk-makhluk (مَا yang Dia kehendaki) untuk meneruskan kedudukan mereka. Hal itu sama seperti Ia menjadikan penduduk Mekkah dari keturunan orang-orang lain (qawmin akhariina), yang telah Ia musnahkan. Pendapat ini hampir sama dengan pendapat yang dikemukakan oleh Ibn Abbas ra.
Umat manusia sebagai makhluk berakal ditulis menggunakan kata ganti man (مَن) di dalam al-Qur'an. Man juga merupakan kata ganti relatif dan digunakan untuk merujuk hanya pada makhluk berakal saja. Adapun dalam ayat di atas, kata yang digunakan adalah maa (مَا). Maa memang dapat digunakan untuk merujuk pada makhluk berakal. Tetapi dalam penggunaan tertentu, maa secara spesifik merujuk pada makhluk tidak berakal (hewan, benda mati).
Neanderthal tidak pernah menciptakan bahasa tertulis, mengembangkan pertanian atau berkembang melampaui Zaman Batu. Pada saat yang sama, mereka memiliki otak yang sama besarnya dengan manusia modern. Pertanyaan tentang mengapa Homo Sapiens secara signifikan lebih cerdas daripada Neanderthal yang berotak sama besar — termasuk mengapa manusia modern bertahan hidup dan berkembang biak sementara Neanderthal punah — telah membingungkan para ilmuwan selama beberapa waktu. Sekarang, sebuah penelitian memberikan bukti sebagai penjelasan. Dilihat dari catatan arkeologi, Neanderthal beradaptasi dengan baik pada lingkungan khususnya, tetapi mereka tidak kreatif dalam hal strategi berburu atau karya seni. Sebagai contoh, mereka tidak membuat lukisan gua seperti yang dilakukan oleh manusia modern yang sezaman dengan mereka.
![]() |
| Lukisan prasejarah gua Pettakere, Kecamatan Bantimurung, Sulawesi Selatan, Indonesia. Diperkirakan berusia antara 35.000–40.000 tahun. (Wikimedia) |
Marc Hauser, direktur lab evolusi kognitif di Harvard University, telah mengidentifikasi empat kemampuan pikiran manusia yang mereka yakini sebagai inti dari sifat-sifat dan kemampuan "humaniqueness" kita yang membedakan manusia modern dari "manusia" lain di bumi. Empat kemampuan tersebut adalah: penghitungan generatif, kombinasi ide-ide yang tidak semestinya, penggunaan simbol-simbol mental, dan pemikiran abstrak. Ketika manusia modern terus berkembang hingga saat ini, Neanderthal punah sekitar 40.000 tahun yang lalu. Wallaahu a’lam bishawaab.

