Air Tawar Mengalir Di Dalam Laut

Walaupun dikenal sebagai tempat air asin, laut ternyata memiliki kandungan air tawar berupa mata air bawah laut. Air tawar ini dapat ditemukan di lautan seluruh dunia, terutama pada wilayah dengan formasi geologi bawah tanah berupa batu kapur atau batuan vulkanik. Mata air bawah laut merupakan air tawar yang mengalir bebas ke laut. Sebagian besar mata air bawah laut dulunya adalah mata air tanah (akuifer), yang terendam saat permukaan laut naik. Gravitasi secara alami menarik air ke titik serendah mungkin, seringkali di bawah permukaan laut.

Laut Merah. (Pixabay)
Mata air bawah laut sangat cocok untuk konsumsi manusia dan dapat meringankan kesulitan hidup yang disebabkan oleh kekurangan air di daerah di mana satu-satunya solusi hanya dalam bentuk penyulingan air laut. Hanya saja, belum ada teknologi yang efektif untuk mengumpulkan air ini. Upaya untuk mengumpulkan mata air bawah laut tidak berhasil karena intrusi air laut ke akuifer air tawar selama proses pemompaan. Selain itu, pemompaan yang berlebihan mengakibatkan peningkatan kontaminasi oleh air laut.

Mengingat bahwa air tawar tidak sepadat air asin, air tersebut secara alami naik kemudian mengalir bebas ke laut, sekitar 1,5 meter kubik per detik. Keunikan mata air bawah laut adalah dapat mengalir di laut bersama dengan air asin tanpa membuat keduanya bercampur. Fenomena ini dikenal sebagai stratifikasi air, ketika massa air dengan sifat yang berbeda membentuk lapisan yang bertindak sebagai penghambat pencampuran air.

Allah SWT berfirman sebagai berikut:

Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi. [Surat Al-Furqan Ayat 53]

Imam al-Qurtubi mengutip pendapat Mujahid mengatakan bahwa salah satu laut mengirim airnya dan membanjiri satu sama lain. Dari perspektif sains, yang dimaksud dengan laut yang mengirim airnya tersebut adalah mata air bawah laut. Dalam tafsir al-Qurtubi juga disebutkan bahwa dinding dan batas pada dua laut tersebut tidak terlihat oleh mata manusia (stratifikasi air tidak bisa dilihat oleh mata manusia). Menurut pendapat al-Hassan, dua laut tersebut adalah Laut Persia (salah satunya Teluk Persia) dan Laut Romawi (salah satunya Laut Merah).

Mutiara air tawar kadang dapat ditemukan di laut yang memiliki mata air bawah laut. (Wikimedia)
Mata air bawah tanah dapat ditemukan di jazirah Arab, tepatnya di wilayah pesisir timur (Teluk Persia) dan wilayah pesisir barat (Laut Merah). Meskipun mata air bawah tanah didokumentasikan dengan baik, tidak ada upaya yang dilakukan untuk mensurvei daerah ini guna menemukan mata air tawar tersebut.

Beberapa makhluk hidup bisa beradaptasi dengan perubahan salinitas (kadar garam), salah satunya adalah ikan sturgeon. Ikan ini dapat beradaptasi di air tawar dan air asin. Karena sangat lambat dalam berkembang dan menjadi dewasa, sturgeon sangat rentan terhadap eksploitasi dan ancaman lainnya. Terdapat catatan yang menyebutkan bahwa ikan sturgeon masih dapat ditemukan di Laut Merah pada tahun 1985.

Allah SWT berfirman sebagai berikut:

Dan tiada sama (antara) dua laut; yang ini tawar, segar, sedap diminum dan yang lain asin lagi pahit. Dan dari masing-masing laut itu kamu dapat memakan daging yang segar dan kamu dapat mengeluarkan ḥilyatan yang dapat kamu memakainya, dan pada masing-masingnya kamu lihat kapal-kapal berlayar membelah laut supaya kamu dapat mencari karunia-Nya dan supaya kamu bersyukur. [Surat Fatir Ayat 12]

Menurut pendapat Imam Husain bin Mas'ud Al-Baghawi, yang dimaksud dengan ḥilyatan (حِلْيَةً) adalah mutiara. Peradaban Timur Tengah tampaknya yang pertama menghargai mutiara. Perhiasan mutiara kemudian menyebar ke wilayah Mediterania. Di Persia, permata ini dikatakan memiliki nilai yang sama dengan emas. Pada tahun 100 SM, antusiasme wilayah Mediterania untuk mutiara semakin meningkat. Benda-benda mutiara yang sudah dihiasi dapat ditemukan di situs arkeologi di seluruh Kekaisaran Romawi; dari Suriah, Afrika Utara hingga Prancis utara.

Tiram mutiara (mutiara air asin) dan kerang mutiara (mutiara air tawar) dapat ditemukan di pantai Laut Merah Mesir. Meskipun mutiara telah lama menjadi permata yang berharga, benda ini umumnya tidak digunakan di Mesir hingga zaman Ptolemeus. Penulis, naturalis dan filsuf Romawi bernama Pliny mencatat sejumlah sumber untuk mutiara air tawar termasuk laut di sekitar India, Arab, Sri Lanka, Teluk Persia dan Laut Merah.

Kapal dagang kekaisaran Romawi. (Wikimedia)
Provinsi Romawi Mesir (Latin: Aegyptus) didirikan pada 30 SM. Aegyptus berbatasan dengan provinsi Kreta dan Cyrenaica di sebelah barat dan Yudea (Arabia Petraea) di sebelah Timur. Aegyptus merupakan provinsi Romawi Timur terkaya, dan sejauh ini provinsi Romawi terkaya di luar Italia. Kekaisaran Romawi mendominasi perdagangan pada bagian utara Laut Merah setidaknya sampai akhir abad kedua Masehi.

Berdasarkan sumber-sumber sastra kuno dan bukti arkeologis yang samar menunjukkan bahwa kekaisaran Romawi tetap aktif di Laut Merah selama seluruh periode kehadiran Romawi di daerah itu. Meskipun intensitas kegiatan itu menurun selama abad ketiga, ada kebangkitan di abad keempat-keenam. Setelah bangsa Arab Muslim menaklukkan Mesir dan Timur Dekat pada abad ketujuh Masehi, Romawi tidak memainkan peran langsung dalam perdagangan Laut Merah. Wallaahu a’lam bishawaab.

Sumber:

Arab Remote Sensing and Geographic Information System Organisation - Using Remote Sensing and GIS for Submarine Freshwater Springs Exploration as a Plausible Water Source in Saudi Arabia.

Climate Control Middle East - Fresh water from the sea.

George Rapp: Archaeomineralogy, Springer Science & Business Media, 7 Feb 2009, p112.

Geowords - Pearls in human history.

Jacquelyn G. Black: Microbiology: Principles and Explorations, John Wiley & Sons, 2 Jan 2008, p86.

King Saud University - Tafsir al-Qurtubi.

Parcourir Les Collections - Romans and Arabs in the Red Sea.

Wikipedia - Euryhaline, Egypt (Roman province), Stratification (water), Sturgeon.