Kemenangan Kekaisaran Romawi Terhadap Kekaisaran Persia

Adhri'at dan Bushra pada zaman dahulu adalah dua kota di bawah kekuasaan kekaisaran Romawi Timur. Adhri'at (Daraa, kadang disebut Adraa) adalah sebuah kota di Suriah barat daya, terletak sekitar 13 kilometer di utara perbatasan dengan Yordania. Kota ini dikuasai Romawi pada tahun 106 Masehi oleh kaisar Trajan dan termasuk bagian dari provinsi Saudi Petraea. Pada abad ke-3, Adhri'at memperoleh status polis (kota yang diperintah sendiri). Sejarawan Romawi Eusebius menyebut Adhri'at sebuah kota (polis) Arab yang terkenal. Wilayah timur Adhri'at dikenal sebagai pusat orang Ebionit (salah satu sekte dalam agama Nasrani).

Ilustrasi pasukan kekaisaran Sasaniyah (Persia). Selama kurun waktu 602-621 Masehi, kekaisaran Sasaniyah menyerang dan menduduki wilayah kekaisaran Romawi Timur. (Image: Wikimedia)
Adapun Bushra (Bahasa Arab: بصرى, huruf latin: Buṣrā) adalah sebuah kota yang terletak di Suriah selatan. Di bawah Kekaisaran Romawi, Bushra berganti nama menjadi Nova Trajana Bostra dan dijadikan ibu kota provinsi Romawi Arabia Petraea. Kota ini berkembang dan menjadi kota metropolis utama karena adanya jalan Romawi yang menghubungkan Damaskus ke Laut Merah. Jalan tersebut menjadi pusat penting untuk produksi makanan. Menjelang abad ke-5, agama Nasrani menjadi agama dominan di Bushra. Kota Bushra menjadi tempat bagi uskup agung Metropolitan. Sebuah katedral besar juga dibangun pada abad keenam.

Tepat pada titik ini dalam sejarah, Khosrau II (590-628 M) menjadi raja Sasaniyah (Persia). Di awal masa pemerintahannya, Raja Khosrau II berusaha membangun kembali kejayaan kekaisaran Achaemenid dengan menaklukkan kerajaan-kerajaan sekitar secara agresif. Pada tahun 602 Masehi ia melancarkan serangan terhadap Romawi Timur dengan tujuan menganeksasi sebanyak mungkin wilayah kekaisaran tersebut. Pada tahun 610 Masehi, Sasaniyah telah menaklukkan Mesopotamia dan Kaukasus. Mereka selanjutnya menyerbu Suriah dan memasuki wilayah Yerusalem pada tahun 614 Masehi.

Kuil Buhaira di kota Bushra. Buhaira adalah seorang rahib Nasrani yang melihat tanda-tanda kenabian pada diri Rasulullah. (Image: Wikimedia)
Pada tahun 613 Masehi, Nicetas menemani kaisar Heraklius dalam perang melawan Sasaniyah, tetapi keduanya dikalahkan dalam Pertempuran Antiokhia. Nicetas adalah sepupu Kaisar Heraklius (kaisar Romawi Timur ketika peristiwa kekalahan di Antiokhia terjadi). Kekalahan ini menjadi tonggak penting yang mengakibatkan jatuhnya wilayah Suriah dengan cepat ke Sasaniyah, termasuk wilayah Adhri'at dan Bushra. Pasukan Romawi Timur di kota Adhri'at dipimpin oleh Nicetas. Dia terus melawan pasukan Sasaniyah tetapi selalu mengalami kekalahan. Pertempuran antara Romawi Timur dengan Sasaniyah di kota Adhri'at berlangsung antara tahun 613-614 Masehi. Setelah mengalahkan Romawi Timur, pasukan Sasaniyah memusnahkan kebun-kebun zaitun di kota itu.

Allah SWT berfirman sebagai berikut:

Alif Laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, Karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Maha Perkasa lagi Penyayang. [Surat Ar-Rum Ayat 1-5]

Makna Bid' atau "dalam beberapa tahun lagi" menurut tradisi bangsa Arab adalah kurun waktu antara tiga hingga sembilan tahun.

Asbab Al-Nuzul ayat-ayat tersebut berkenaan dengan peperangan antara kekaisaran Romawi Timur dengan kekaisaran Sasaniyah pada masa kehidupan nabi Muhammad Saw. Chosroes (Khosrau II) mengirim pasukan di bawah komando seorang panglima bernama Shahryaraz (Shahrbaraz) ke Romawi Timur. Pasukan Sasaniyah menyerbu Romawi Timur dan mengalahkan mereka. Shahryaraz beserta pasukannya membunuh orang-orang Romawi, menghancurkan kota-kota mereka dan menghancurkan semua pohon zaitun mereka. Kaisar (Heraklius) mempercayakan perintah pasukannya kepada seorang bernama Juhannas (Nicetas?). Juhannas berperang melawan Shahryaraz di Adhri‘at dan Busrah, yang merupakan bagian terdekat Suriah dengan tanah bangsa Arab. Dalam pertempuran tersebut, Sasaniyah berhasil mengalahkan Romawi Timur.

Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya mendengar ini di Mekah dan merasa sedih karenanya. Rasulullah Saw tidak suka bahwa bangsa Magian (Sasaniyah), yang tidak memiliki Kitab Suci yang diwahyukan, lebih unggul daripada bangsa Romawi yang merupakan orang-orang dalam Kitab. Orang-orang kafir di Mekah, di sisi lain, gembira dan dengki. Ketika bertemu dengan para sahabat Nabi, mereka (Orang-orang kafir Mekah) berkata: ‘Kalian adalah Ahli Kitab dan umat Nasrani adalah orang-orang di dalam Kitab. Kami tanpa Kitab Suci yang diwahyukan. Adapun saudara-saudara kami dari Sasaniyah telah mengalahkan saudara-saudara kalian, kekaisaran Romawi Timur. Jika kalian hendak melawan kami, kami juga akan mengalahkan kalian '. Karena itu, Allah Swt mewahyukan (Alif Laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri terdekat) sampai akhir ayat-ayat ini ”.

Diriwayatkan oleh Sa'eed bin Jubair:

Dari Ibn 'Abbas, mengenai firman Allah Swt: Alif Laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri terdekat. (30: 1-3) ". Ia berkata:" Ghulibat wa Ghalabat (dikalahkan dan kemudian dimenangkan). "Ia berkata:" Para penyembah berhala ingin agar kekaisaran Persia (Sasaniyah) menang atas kekaisaran Romawi karena mereka juga kaum yang menyembah berhala; sementara umat Muslim ingin Romawi menang atas Persia karena mereka adalah para Ahli Kitab. Peristiwa ini diketahui oleh Abu Bakar ra, maka Abu Bakar ra menyampaikan hal itu kepada Rasulullah (ﷺ). Beliau bersabda: "Mereka (Romawi Timur) pasti akan menang." Abu Bakar ra menyampaikan hal itu kepada mereka (kaum penyembah berhala), dan mereka berkata: 'Buat taruhan di antara kami dan kamu; jika kami menang, kami akan mendapatkan ini dan itu, dan jika kamu menang, kamu akan mendapatkan ini atau itu. ' Dia (Abu Bakar ra) bertaruh dalam lima tahun (Romawi Timur akan menang), tetapi mereka (kekaisaran Romawi) tidak menang. Mereka (umat Muslim) menyampaikan hal itu kepada Nabi (ﷺ). Beliau bertanya: "Mengapa kamu tidak membuatnya kurang (dari)" - Dia (salah satu perawi berkata): Saya pikir beliau berkata: "sepuluh?" Dia berkata: Sa'eed berkata: "Al-Bid' adalah yang kurang dari itu" - Dia berkata: "Setelah (Abu Bakar ra kalah bertaruh) bangsa Romawi (mendapat) kemenangan." Dia berkata: "Itulah yang difirmankan Allah Swt: 'Alif Laam Miim. Bangsa Romawi telah dikalahkan' hingga firman-Nya: 'Dan di hari itu bergembiralah orang-orang yang beriman, Karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. (30: 1-5). ' Sufyan berkata: "Aku mendengar bahwa mereka (umat Muslim) menang atas mereka (kaum penyembah berhala) pada pertempuran Badr." (Jami' at-Tirmidhi, Vol. 5, Book 44, Hadith 3193)

Kapadokia, tempat dimana pasukan Romawi Timur mengalahkan pasukan Sasaniyah pada pertempuran tahun 622 Masehi. (Wikimedia)
Secara logika, menjagokan Romawi Timur pada masa itu tentu dianggap tindakan bodoh. Ancaman terhadap Romawi Timur bukan hanya berasal dari arah timur (Sasaniyah) tetapi juga dari arah barat dan utara. Mereka adalah bangsa Avar dan bangsa Slavia. Keduanya menjadi ancaman serius bagi Romawi Timur di wilayah Eropa. Sementara Mesopotamia, Kaukasus, Levant, Anatolia dan Mesir sudah ditempati dan dikuasai oleh pasukan Sasaniyah; Avar dan Slavia menyerbu wilayah Balkan. Mereka mampu menguasai beberapa kota Romawi Timur, diantaranya Singidunum (Beograd), Viminacium (Kostolac), Naissus (Niš), dan Serdica (Sofia). Mereka juga menghancurkan kota Salona pada tahun 614 Masehi. Uskup Agung dari Sevilla bernama Isidorus mengatakan bahwa bangsa Slavia mengambil "Yunani" dari Romawi Timur. Bangsa Avar juga mulai menyerang wilayah Thrace, mengancam perdagangan dan pertanian, bahkan di dekat gerbang Konstantinopel.

Mengingat pasukan Sasaniyah sudah sangat dekat di gerbang Konstantinopel (ibukota Romawi Timur), Heraklius menawarkan perdamaian dengan imbalan upeti tahunan seribu talenta emas, seribu talenta perak, seribu jubah sutra, seribu kuda, dan seribu perawan kepada penguasa Sasaniyah. Perdamaian memungkinkan dia untuk membangun kembali pasukan Kekaisaran dengan memotong pengeluaran non-militer, mendevaluasi mata uang, dan melebur harta Gereja untuk mengumpulkan dana yang diperlukan untuk melanjutkan perang.

Ilustrasi pasukan Romawi Timur di bawah pimpinan kaisar Heraklius. (Wikimedia)
Pada tahun 622 Masehi, kaisar Heraklius siap untuk melakukan serangan balasan terhadap kekaisaran Sasaniyah yang telah menguasai sebagian besar provinsi timur Kekaisaran Romawi Timur. Untuk mengusir pasukan Sasaniyah di Anatolia dan Suriah, langkah pertamanya adalah berlayar dari Konstantinopel ke Pylae (Bithynia). Dia menghabiskan pelatihan musim panas untuk meningkatkan kemampuan berperang para prajuritnya. Pada musim gugur, Heraklius dan pasukannya bergerak menuju Kapadokia utara kemudian menyatakan perang secara terbuka. Hal ini memaksa pasukan Sasaniyah di Anatolia di bawah pimpinan Shahrbaraz untuk mundur dari garis depan Bithynia dan Galatia menuju Anatolia timur untuk memblokir akses pasukan Heraklius. Apa yang terjadi selanjutnya tidak diketahui dengan pasti, tetapi Heraklius secara tidak terduga mampu memenangkan pertempuran besar atas pasukan Shahrbaraz di suatu tempat di Kapadokia. Melalui pertempuran ini,  Anatolia kembali menjadi milik Romawi Timur.

Dengan demikian, Sasaniyah pada mulanya mengalahkan Romawi Timur, kemudian Romawi Timur membalas dengan mengalahkan Sasaniyah pada tahun 622 Masehi. Mereka (kekaisaran Romawi Timur) tidak membutuhkan puluhan hingga ratusan tahun untuk membalik keadaan. Mereka hanya membutuhkan waktu kurang dari sepuluh tahun untuk mengubah sejarah. Wallaahu a’lam bishawaab.


Sumber:

A. D. Lee, Information and Frontiers: Roman Foreign Relations in Late Antiquity, Cambridge University Press, 2 Nov 2006, p127.

Frants Buhl, Nikita Elisséeff: Adhriʿāt. In: The Encyclopaedia of Islam. New Edition, Bd. 1, Leiden 1960, S. 194.

Quranx - Asbab Al-Nuzul by Al-Wahidi

Sunnah - Jami' at-Tirmidhi.

Wikipedia - Bosra, Daraa, Heraclius.