Dalam filsafat abad pertengahan, ada banyak perdebatan tentang apakah alam semesta memiliki masa lalu yang terbatas atau tak terbatas. Filosofi Aristoteles menyatakan bahwa alam semesta memiliki masa lalu yang tak terbatas. Pendapat seperti itu menyebabkan masalah bagi filsuf Islam abad pertengahan yang tidak mampu mendamaikan konsepsi Aristoteles tentang alam semesta yang tidak memiliki awal dengan pandangan ajaran Islam tentang penciptaan. Akibatnya, berbagai argumen logis tentang alam semesta memiliki masa lalu yang terbatas dikembangkan oleh filsuf seperti Al-Kindi dan Al-Ghazali.
Seiring dengan pencapaian teknologi, teori Big Bang menunjukkan bahwa pendapat Al-Kindi serta Al-Ghazali lebih dekat kepada kebenaran. Big Bang adalah teori ilmiah tentang bagaimana alam semesta dimulai, termasuk penciptaan bintang-bintang dan galaksi yang dapat kita lihat hari ini. Teori ini telah memberikan penjelasan paling komprehensif dan akurat yang didukung oleh metode ilmiah beserta pengamatan.
Alam semesta pada mulanya adalah titik satu dimensi berisi massa yang sangat besar dalam ruang yang sangat kecil. Kondisi tersebut dikenal sebagai singularitas. Kemudian 13,77 miliar tahun yang lalu, ruang mengembang (ekspansi) sangat cepat. Periode ekspansi yang sangat cepat dari alam semesta setelah big bang dikenal sebagai Inflasi. Big bang diawali dengan pembentukan atom yang akhirnya mengarah pada pembentukan bintang-bintang dan galaksi. Secara keseluruhan, alam semesta terbentuk dan suhu turun seiring berjalannya waktu.
Penelitian menunjukkan bahwa alam semesta tidak terbentuk dengan sendirinya, tetapi ada intervensi dalam bentuk dark matter dan dark energy. Baik dark matter dan dark energy menyebabkan alam semesta mengembang semakin cepat beberapa saat setelah Big Bang. Model ini membuat prediksi yang memungkinkan untuk mendeteksi gelombang gravitasi yang terbentuk hanya sepersekian detik setelah penciptaan ruang-waktu.
Al-Qur'an menjelaskan hal ini dalam ayat berikut:
Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? [Surat Al-Anbiya Ayat 30]
Dalam tulisan sebelumnya, telah disinggung bahwa istilah langit dan bumi atau السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ (alssamawati waalarda) merupakan kata ganti untuk alam semesta. Karena itu, ayat tersebut bisa dimaknai sebagai: alam semesta pada awalnya disatukan (rataq / رَتْقًا) yang secara ilmiah adalah singularitas. Kemudian dipisahkan (fataq / َْفَتَقَْا) yang secara ilmiah adalah inflasi kosmik. Contoh penggunaan kata fataq adalah tunas yang keluar dari biji. Kondisi singularitas adalah biji, sedangkan mengembangnya Alam Semesta adalah tunas. Alam semesta sekarang awal mulanya adalah penyatuan empat komponen interaksi dasar meliputi gravitasi, gaya elektromagnetik, gaya nuklir kuat, serta gaya nuklir lemah.
Pada zaman Rasulullah Saw, seseorang pernah mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan hakikat penciptaan alam semesta.
Diriwayatkan oleh Waki 'bin Hudus:
Dari pamannya Abu Razin yang mengatakan: "Aku bertanya: 'Wahai Rasulullah! Di mana Tuhan kita sebelum Ia menciptakan ciptaan-Nya?' Beliau bersabda: 'Dia (di atas) awan - tidak ada udara di bawahnya, tidak ada udara di atasnya, dan Dia menciptakan Tahta-Nya di atas air.' " (Jami at-Tirmidhi Vol. 5, Book 44, Hadith 3109)
Awan dalam Hadist diatas bukanlah awan di langit seperti yang kita kenal sekarang. Kemungkinan yang dimaksud adalah awan gas. Para astronom telah menemukan awan murni dari gas primordial yang terbentuk dalam beberapa menit pertama setelah Big Bang. Komposisi gas sesuai dengan prediksi teoritis, memberikan bukti langsung untuk mendukung penjelasan kosmologis modern tentang asal-usul elemen-elemen di alam semesta.
Pada masa-masa awal setelah Big Bang, oksigen belum terbentuk. Satu-satunya elemen kimia yang eksis adalah hidrogen. Adapun yang dimaksud dengan air, masih menjadi misteri. Tetapi peneliti telah menemukan reservoir air terbesar dan terjauh yang pernah terdeteksi di alam semesta. Kuantitas air tersebut setara dengan 140 triliun kali semua air di lautan dunia, mengelilingi black hole besar yang disebut quasar. Berdasarkan jarak, diperkirakan usia reservoir air tersebut lebih dari 12 miliar tahun.
Agama Islam menegaskan bahwa Allah Swt adalah dzat yang paling awal sebagaimana dijelaskan dalam Hadist berikut:
Diriwayatkan oleh Imran bin Husain:
Nabi Saw bersabda, “Pertama-tama, tidak ada apa-apa selain Allah Swt, (kemudian Dia menciptakan Singgasana-Nya). Singgasana-Nya berada di atas air. Dia menulis semuanya di dalam Kitab kemudian menciptakan Langit dan Bumi.”. (Sahih al-Bukhari Vol. 4, Book 54, Hadith 414)
Waktu atau masa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) adalah seluruh rangkaian ketika proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung. Dalam hal ini, skala waktu merupakan interval antara dua buah keadaan/kejadian, atau bisa merupakan lama berlangsungnya suatu kejadian. Jika waktu diurutkan terus ke belakang maka akan terhenti 13,77 miliar tahun lalu ketika alam semesta berada dalam kondisi singularitas. Dengan adanya Sang Pencipta, maka perlu adanya waktu tambahan?
Secara matematis, waktu eksis sebelum Big Bang. Alam semesta memiliki awal dan akhir. Waktu akan habis dan berhenti dan masing-masing dari permulaan dan akhir ini mungkin dapat direkatkan untuk membuat urutan waktu yang tak terbatas. Jadi sebenarnya mungkin ada sesuatu sebelum penciptaan alam semesta, sebelum dan sebelum itu. Agama Islam sendiri menjelaskan bahwa waktu eksis setidaknya lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan alam semesta.
Abdullah b. 'Amr b. al-'As meriwayatkan sebagai berikut:
Saya mendengar Rasulullah (ﷺ) bersabda: Allah Swt menetapkan ukuran (kualitas) dari penciptaan lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi, seperti Tahta-Nya berada di atas air. (Sahih Muslim, Book 33, Hadith 6416)
Menurut fisikawan Stephen Hawking, sebelum Big Bang terjadi, waktu sudah ada, tetapi bukan waktu yang kita bayangkan sebagai waktu linier. Sebaliknya, ada waktu imajiner, yang ia gambarkan sebagai sama nyatanya dengan apa yang kita sebut real time. Hawking mengatakan secara paradoks, "Kondisi batas alam semesta ... adalah bahwa ia tidak memiliki batas," yang berarti bahwa tidak ada waktu sebelum waktu. Hal ini karena waktu selalu ada. Waktu ada dalam keadaan "bengkok" tanpa henti mendekati non-eksistensi tetapi tidak pernah mencapainya. Karena itu Big Bang tidak muncul dari ketiadaan.
Karena peristiwa sebelum Big Bang tidak memiliki konsekuensi pengamatan, seseorang mungkin akan mengabaikannya dari teori, mengatakan bahwa waktu dimulai pada saat Big Bang. Peristiwa sebelum Big Bang, sama sekali tidak dapat didefinisikan, sebab tidak ada metode ilmiah yang bisa mengukur apa yang terjadi sebelum itu. Hawking memberi analogi untuk menjelaskan waktu imajiner sebagai berikut:
Anggap saja anda berada pada titik temu garis horizontal dan garis vertikal.
Posisi anda adalah waktu nyata pada saat ini. Di sebelah kiri, waktu bergerak ke arah masa lalu. Adapun di sebelah kanan, waktu bergerak ke arah masa depan.Tetapi ada jenis waktu lain dalam arah vertikal. Ini disebut waktu imajiner, karena bukan jenis waktu yang biasanya kita alami. Tetapi dalam arti, itu sama nyatanya dengan apa yang kita sebut real time. Wallaahu a’lam bishawaab.
Seiring dengan pencapaian teknologi, teori Big Bang menunjukkan bahwa pendapat Al-Kindi serta Al-Ghazali lebih dekat kepada kebenaran. Big Bang adalah teori ilmiah tentang bagaimana alam semesta dimulai, termasuk penciptaan bintang-bintang dan galaksi yang dapat kita lihat hari ini. Teori ini telah memberikan penjelasan paling komprehensif dan akurat yang didukung oleh metode ilmiah beserta pengamatan.
![]() |
| Big Bang sebagai permulaan terciptanya Alam Semesta. (Pixabay) |
Penelitian menunjukkan bahwa alam semesta tidak terbentuk dengan sendirinya, tetapi ada intervensi dalam bentuk dark matter dan dark energy. Baik dark matter dan dark energy menyebabkan alam semesta mengembang semakin cepat beberapa saat setelah Big Bang. Model ini membuat prediksi yang memungkinkan untuk mendeteksi gelombang gravitasi yang terbentuk hanya sepersekian detik setelah penciptaan ruang-waktu.
Al-Qur'an menjelaskan hal ini dalam ayat berikut:
Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? [Surat Al-Anbiya Ayat 30]
Dalam tulisan sebelumnya, telah disinggung bahwa istilah langit dan bumi atau السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ (alssamawati waalarda) merupakan kata ganti untuk alam semesta. Karena itu, ayat tersebut bisa dimaknai sebagai: alam semesta pada awalnya disatukan (rataq / رَتْقًا) yang secara ilmiah adalah singularitas. Kemudian dipisahkan (fataq / َْفَتَقَْا) yang secara ilmiah adalah inflasi kosmik. Contoh penggunaan kata fataq adalah tunas yang keluar dari biji. Kondisi singularitas adalah biji, sedangkan mengembangnya Alam Semesta adalah tunas. Alam semesta sekarang awal mulanya adalah penyatuan empat komponen interaksi dasar meliputi gravitasi, gaya elektromagnetik, gaya nuklir kuat, serta gaya nuklir lemah.
Pada zaman Rasulullah Saw, seseorang pernah mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan hakikat penciptaan alam semesta.
Diriwayatkan oleh Waki 'bin Hudus:
Dari pamannya Abu Razin yang mengatakan: "Aku bertanya: 'Wahai Rasulullah! Di mana Tuhan kita sebelum Ia menciptakan ciptaan-Nya?' Beliau bersabda: 'Dia (di atas) awan - tidak ada udara di bawahnya, tidak ada udara di atasnya, dan Dia menciptakan Tahta-Nya di atas air.' " (Jami at-Tirmidhi Vol. 5, Book 44, Hadith 3109)
Awan dalam Hadist diatas bukanlah awan di langit seperti yang kita kenal sekarang. Kemungkinan yang dimaksud adalah awan gas. Para astronom telah menemukan awan murni dari gas primordial yang terbentuk dalam beberapa menit pertama setelah Big Bang. Komposisi gas sesuai dengan prediksi teoritis, memberikan bukti langsung untuk mendukung penjelasan kosmologis modern tentang asal-usul elemen-elemen di alam semesta.
Pada masa-masa awal setelah Big Bang, oksigen belum terbentuk. Satu-satunya elemen kimia yang eksis adalah hidrogen. Adapun yang dimaksud dengan air, masih menjadi misteri. Tetapi peneliti telah menemukan reservoir air terbesar dan terjauh yang pernah terdeteksi di alam semesta. Kuantitas air tersebut setara dengan 140 triliun kali semua air di lautan dunia, mengelilingi black hole besar yang disebut quasar. Berdasarkan jarak, diperkirakan usia reservoir air tersebut lebih dari 12 miliar tahun.
Agama Islam menegaskan bahwa Allah Swt adalah dzat yang paling awal sebagaimana dijelaskan dalam Hadist berikut:
Diriwayatkan oleh Imran bin Husain:
Nabi Saw bersabda, “Pertama-tama, tidak ada apa-apa selain Allah Swt, (kemudian Dia menciptakan Singgasana-Nya). Singgasana-Nya berada di atas air. Dia menulis semuanya di dalam Kitab kemudian menciptakan Langit dan Bumi.”. (Sahih al-Bukhari Vol. 4, Book 54, Hadith 414)
Waktu atau masa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) adalah seluruh rangkaian ketika proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung. Dalam hal ini, skala waktu merupakan interval antara dua buah keadaan/kejadian, atau bisa merupakan lama berlangsungnya suatu kejadian. Jika waktu diurutkan terus ke belakang maka akan terhenti 13,77 miliar tahun lalu ketika alam semesta berada dalam kondisi singularitas. Dengan adanya Sang Pencipta, maka perlu adanya waktu tambahan?
![]() |
| Waktu mungkin eksis sebelum Big Bang. (Pixabay) |
Abdullah b. 'Amr b. al-'As meriwayatkan sebagai berikut:
Saya mendengar Rasulullah (ﷺ) bersabda: Allah Swt menetapkan ukuran (kualitas) dari penciptaan lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi, seperti Tahta-Nya berada di atas air. (Sahih Muslim, Book 33, Hadith 6416)
Menurut fisikawan Stephen Hawking, sebelum Big Bang terjadi, waktu sudah ada, tetapi bukan waktu yang kita bayangkan sebagai waktu linier. Sebaliknya, ada waktu imajiner, yang ia gambarkan sebagai sama nyatanya dengan apa yang kita sebut real time. Hawking mengatakan secara paradoks, "Kondisi batas alam semesta ... adalah bahwa ia tidak memiliki batas," yang berarti bahwa tidak ada waktu sebelum waktu. Hal ini karena waktu selalu ada. Waktu ada dalam keadaan "bengkok" tanpa henti mendekati non-eksistensi tetapi tidak pernah mencapainya. Karena itu Big Bang tidak muncul dari ketiadaan.
Karena peristiwa sebelum Big Bang tidak memiliki konsekuensi pengamatan, seseorang mungkin akan mengabaikannya dari teori, mengatakan bahwa waktu dimulai pada saat Big Bang. Peristiwa sebelum Big Bang, sama sekali tidak dapat didefinisikan, sebab tidak ada metode ilmiah yang bisa mengukur apa yang terjadi sebelum itu. Hawking memberi analogi untuk menjelaskan waktu imajiner sebagai berikut:
Anggap saja anda berada pada titik temu garis horizontal dan garis vertikal.
Posisi anda adalah waktu nyata pada saat ini. Di sebelah kiri, waktu bergerak ke arah masa lalu. Adapun di sebelah kanan, waktu bergerak ke arah masa depan.Tetapi ada jenis waktu lain dalam arah vertikal. Ini disebut waktu imajiner, karena bukan jenis waktu yang biasanya kita alami. Tetapi dalam arti, itu sama nyatanya dengan apa yang kita sebut real time. Wallaahu a’lam bishawaab.

