Bagi mereka yang berkecimpung dalam bidang astronomi, tentu tidak asing dengan istilah bintang jatuh. Sepintas seperti bintang di langit yang dengan cepat melesat ke bumi, tetapi bintang jatuh sebenarnya bukan bintang. Secara fisik berupa sepotong batu atau debu berukuran kecil yang menghantam atmosfer bumi dari angkasa.
Benda langit ini bergerak sangat cepat sehingga menimbulkan panas dan bersinar saat melintasi atmosfer. Bintang jatuh sebenarnya adalah apa yang oleh astronom dikenal sebagai meteor. Kebanyakan meteor akan terbakar di atmosfer sebelum mencapai tanah. Namun kadang-kadang terdapat meteor berukuran cukup besar yang mampu bertahan hingga mencapai permukaan bumi.
Allah SWT berfirman sebagai berikut:
Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu kawkab. [Surat As-Saffat Ayat 6]
Kawkab (الْكَوَاكِبِ) merupakan benda langit yang bersinar karena sumber cahaya dari benda langit lain. Sebaliknya, bintang-bintang atau 'najm' bersinar oleh cahaya mereka sendiri. Karena itu, kata 'kawkab' bisa diartikan benda langit seperti meteor, meteoroid, meteor shower, komet bahkan planet.
Allah SWT berfirman sebagai berikut:
Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah. Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan kawkab, dan Kami jadikan kawkab itu alat-alat pelempar syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala. [Surat Al-Mulk Ayat 3-5]
Dalam ayat diatas dijelaskan bahwa bintang jatuh merupakan alat untuk mengusir syaitan. Al-Qur'an menjelaskan bahwa langit terdiri dari tujuh tingkatan, enam diantaranya belum bisa dideteksi dengan teknologi (dimensi-dimensi ekstra). Adapun langit yang paling dekat dengan bumi dilengkapi dengan 'sistem penjagaan' dari gangguan supernatural menggunakan meteor yang hakikatnya adalah materi padat.
Bintang jatuh kadang-kadang disebut fireball atau meteor yang sangat terang. Ketika fireball terjadi di daerah yang ramai penduduknya, fenomena itu dapat menarik perhatian karena dapat menimbulkan ketakutan, kekaguman sekaligus dikaitkan dengan kepercayaan tertentu.
Abdullah Ibnu Abbas (ra) meriwayatkan sebagai berikut:
Seseorang dari Ansar yang berada di antara Sahabat Rasulullah (ﷺ) bercerita kepadaku: Ketika kami duduk di malam hari dengan Rasulullah (ﷺ), sebuah meteor melesat memberi cahaya yang sangat terang. Rasulullah (ﷺ) berkata: Apa yang kalian katakan di masa pra-Islam ketika ada peristiwa itu (meteor)? Mereka berkata: Allah dan Rasul-Nya mengetahui yang terbaik (keadaan sebenarnya), tetapi kami biasa mengatakan bahwa pada malam itu juga seorang pria hebat telah dilahirkan dan seorang pria hebat telah meninggal. Rasulullah (ﷺ) bersabda: (meteor-meteor tersebut) melesat bukan karena kematian siapa pun, bukan pula karena kelahiran siapa pun. Allah SWT, Yang Maha Mulia dan Maha Agung, mengeluarkan Perintah ketika Dia memutuskan untuk melakukan sesuatu. Kemudian (para Malaikat) pembawa Singgasana memuji untuk kemuliaan-Nya, lalu ikut memuji para penghuni langit yang dekat dengan mereka sampai kemuliaan Allah Swt tersebut sampai kepada mereka yang ada di langit dunia. Kemudian mereka yang dekat dengan para pembawa Singgasana bertanya kepada para pembawa Singgasana: Apa yang Allah Swt firmankan? Para pembawa Singgasana memberi tahu mereka apa yang menjadi ketetapan-Nya. Kemudian para penghuni langit mencari informasi dari mereka sampai informasi tersebut mencapai langit dunia. Dalam proses penyampaian ini (jin mencuri berita) apa yang dia dengar secara tidak sengaja kemudian membawanya ke teman-temannya. Ketika para Malaikat melihat jin, mereka menyerang jin tersebut dengan meteor. Kalau saja para jin menceritakan hanya yang mereka dengar maka informasi tersebut tentu benar tetapi mereka memadukannya dengan kebohongan dan membuat tambahan untuk itu. (Sahih Muslim Book 26, Hadith 5538)
Meteor dengan cahaya yang sangat terang yang terjadi pada masa Rasulullah (Saw) adalah indikasi kuat mengenai fenomena fireball. Dari riwayat tersebut dapat kita simpulkan bahwa peristiwa bintang jatuh termasuk fenomena yang lazim pada masa itu. Baik Rasulullah (Saw) dan kaum muslimin dapat melihat bintang jatuh / fireball yang digunakan untuk mengusir jin.
Terdapat perbedaan antara meteor dan fireball menurut penjelasan International Meteor Organization. Meteor baru menghasilkan cahaya ketika memasuki atmosfer bumi, relatif tidak terlalu terang dan tidak sampai mendarat di bumi. Adapun fireball memiliki tingkat kecerahan yang intens dan mendarat di bumi.
Selain kawkab, al-Qur'an memberi julukan benda langit pengusir syaitan / jin sebagai shihab (شِهَابًا) atau panah-panah api.
Allah SWT berfirman sebagai berikut:
Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit. Maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api. Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). [Surat Al-Jinn Ayat 8-9]
Beberapa fireball mampu menembus atmosfer bumi kemudian kembali lagi ke angkasa; fenomena ini masih sulit dijelaskan secara ilmiah. Fireball yang disertai dengan ledakan dikenal dengan sebutan bolide. Untuk dapat menentukan apakah fireball itu menjadi bolide atau tidak, adalah dengan memperkirakan tingkat kecerahan. Jika objek tersebut lebih cerah dibanding benda di langit kecuali matahari dan bulan, maka itu adalah bolide.
Kebanyakan bolide biasanya ada di kisaran magnitude -14 atau lebih. Pada saat magnitude mencapai -14, cahaya dari bolide setara dengan cahaya yang dihasilkan oleh bulan purnama. Bolide juga dapat terjadi pada siang hari atau di malam hari ketika mendung. Fenomena tersebut juga sering terjadi di atas lautan atau area bumi yang tidak dihuni manusia. Wallaahu a’lam bishawaab.
Sumber:
International Meteor Organization - Fireballs.
NASA - What causes fireballs in the sky?
Planet Facts - Fireball.
Sunnah - Sahih Muslim.
The California Institute of Technology - What is a shooting star?
![]() |
| Meteor atau sering disebut bintang jatuh. (Pixabay) |
Allah SWT berfirman sebagai berikut:
Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu kawkab. [Surat As-Saffat Ayat 6]
Kawkab (الْكَوَاكِبِ) merupakan benda langit yang bersinar karena sumber cahaya dari benda langit lain. Sebaliknya, bintang-bintang atau 'najm' bersinar oleh cahaya mereka sendiri. Karena itu, kata 'kawkab' bisa diartikan benda langit seperti meteor, meteoroid, meteor shower, komet bahkan planet.
Allah SWT berfirman sebagai berikut:
Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah. Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan kawkab, dan Kami jadikan kawkab itu alat-alat pelempar syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala. [Surat Al-Mulk Ayat 3-5]
Dalam ayat diatas dijelaskan bahwa bintang jatuh merupakan alat untuk mengusir syaitan. Al-Qur'an menjelaskan bahwa langit terdiri dari tujuh tingkatan, enam diantaranya belum bisa dideteksi dengan teknologi (dimensi-dimensi ekstra). Adapun langit yang paling dekat dengan bumi dilengkapi dengan 'sistem penjagaan' dari gangguan supernatural menggunakan meteor yang hakikatnya adalah materi padat.
Bintang jatuh kadang-kadang disebut fireball atau meteor yang sangat terang. Ketika fireball terjadi di daerah yang ramai penduduknya, fenomena itu dapat menarik perhatian karena dapat menimbulkan ketakutan, kekaguman sekaligus dikaitkan dengan kepercayaan tertentu.
Abdullah Ibnu Abbas (ra) meriwayatkan sebagai berikut:
Seseorang dari Ansar yang berada di antara Sahabat Rasulullah (ﷺ) bercerita kepadaku: Ketika kami duduk di malam hari dengan Rasulullah (ﷺ), sebuah meteor melesat memberi cahaya yang sangat terang. Rasulullah (ﷺ) berkata: Apa yang kalian katakan di masa pra-Islam ketika ada peristiwa itu (meteor)? Mereka berkata: Allah dan Rasul-Nya mengetahui yang terbaik (keadaan sebenarnya), tetapi kami biasa mengatakan bahwa pada malam itu juga seorang pria hebat telah dilahirkan dan seorang pria hebat telah meninggal. Rasulullah (ﷺ) bersabda: (meteor-meteor tersebut) melesat bukan karena kematian siapa pun, bukan pula karena kelahiran siapa pun. Allah SWT, Yang Maha Mulia dan Maha Agung, mengeluarkan Perintah ketika Dia memutuskan untuk melakukan sesuatu. Kemudian (para Malaikat) pembawa Singgasana memuji untuk kemuliaan-Nya, lalu ikut memuji para penghuni langit yang dekat dengan mereka sampai kemuliaan Allah Swt tersebut sampai kepada mereka yang ada di langit dunia. Kemudian mereka yang dekat dengan para pembawa Singgasana bertanya kepada para pembawa Singgasana: Apa yang Allah Swt firmankan? Para pembawa Singgasana memberi tahu mereka apa yang menjadi ketetapan-Nya. Kemudian para penghuni langit mencari informasi dari mereka sampai informasi tersebut mencapai langit dunia. Dalam proses penyampaian ini (jin mencuri berita) apa yang dia dengar secara tidak sengaja kemudian membawanya ke teman-temannya. Ketika para Malaikat melihat jin, mereka menyerang jin tersebut dengan meteor. Kalau saja para jin menceritakan hanya yang mereka dengar maka informasi tersebut tentu benar tetapi mereka memadukannya dengan kebohongan dan membuat tambahan untuk itu. (Sahih Muslim Book 26, Hadith 5538)
Meteor dengan cahaya yang sangat terang yang terjadi pada masa Rasulullah (Saw) adalah indikasi kuat mengenai fenomena fireball. Dari riwayat tersebut dapat kita simpulkan bahwa peristiwa bintang jatuh termasuk fenomena yang lazim pada masa itu. Baik Rasulullah (Saw) dan kaum muslimin dapat melihat bintang jatuh / fireball yang digunakan untuk mengusir jin.
Terdapat perbedaan antara meteor dan fireball menurut penjelasan International Meteor Organization. Meteor baru menghasilkan cahaya ketika memasuki atmosfer bumi, relatif tidak terlalu terang dan tidak sampai mendarat di bumi. Adapun fireball memiliki tingkat kecerahan yang intens dan mendarat di bumi.
Selain kawkab, al-Qur'an memberi julukan benda langit pengusir syaitan / jin sebagai shihab (شِهَابًا) atau panah-panah api.
Allah SWT berfirman sebagai berikut:
Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit. Maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api. Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). [Surat Al-Jinn Ayat 8-9]
Beberapa fireball mampu menembus atmosfer bumi kemudian kembali lagi ke angkasa; fenomena ini masih sulit dijelaskan secara ilmiah. Fireball yang disertai dengan ledakan dikenal dengan sebutan bolide. Untuk dapat menentukan apakah fireball itu menjadi bolide atau tidak, adalah dengan memperkirakan tingkat kecerahan. Jika objek tersebut lebih cerah dibanding benda di langit kecuali matahari dan bulan, maka itu adalah bolide.
Kebanyakan bolide biasanya ada di kisaran magnitude -14 atau lebih. Pada saat magnitude mencapai -14, cahaya dari bolide setara dengan cahaya yang dihasilkan oleh bulan purnama. Bolide juga dapat terjadi pada siang hari atau di malam hari ketika mendung. Fenomena tersebut juga sering terjadi di atas lautan atau area bumi yang tidak dihuni manusia. Wallaahu a’lam bishawaab.
Sumber:
International Meteor Organization - Fireballs.
NASA - What causes fireballs in the sky?
Planet Facts - Fireball.
Sunnah - Sahih Muslim.
The California Institute of Technology - What is a shooting star?
