Dari luar angkasa, sungai tampak seperti keran yang mengalir ke laut. Sungai Amazon sepanjang 4.000 mil mengalir terus-menerus ke Atlantik; Sungai Columbia 1.200 mil bermuara siang dan malam ke Pasifik. Sementara itu, Sungai Zambezi sepanjang 1.700 mil mengalir tanpa henti ke Samudra Hindia. Tidak seperti bak mandi dengan keran yang terbuka, berakibat air meluap ke lantai kamar mandi, lautan sepertinya tidak pernah meluap.
Air dari hujan dan salju yang mencair mengalir di pegunungan yang menjulang tinggi dan bukit-bukit menuju stream (sungai kecil yang dangkal). Stream berkumpul bersama menjadi sungai. Sungai melebar saat mereka bergabung dengan aliran sungai di sepanjang jalan. Semua air itu mengalir turun menuju laut. Beberapa sungai di daerah tropis dapat menumpahkan 700.000 kaki kubik dalam sedetik.
Allah SWT berfirman sebagai berikut:
Dan laut yang masjur. Sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi, tidak seorangpun yang dapat menolaknya. [Surat At-Tur Ayat 6-8]
Ibnu Jarir mengutip pendapat Qatadah bin an-Nu'man (ra) bahwa yang dimaksud dengan masjur adalah penuh. Menurut pendapat Imam Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di, makna ayat diatas adalah laut diisi dengan air, telah dilarang dan dicegah oleh Allah SWT agar tidak meluap di muka bumi. Dapat disimpulkan bahwa masjur adalah kondisi air yang senantiasa tetap penuh. Tidak berkurang tetapi juga tidak meluap.
Mengapa air laut tidak pernah meluap?
Pikirkan laut sebagai air mancur yang ada di pusat kota. Pada air mancur, air terus-menerus disemprotkan ke baskom yang luas. Tapi baskom tidak meluap, karena air yang sudah keluar dari pancuran ditarik keatas untuk menyembur kembali dari puncak air mancur. Air di air mancur secara terus menerus didaur ulang.
Daur ulang serupa terjadi di lautan. Air hujan turun di darat dan mengalir ke laut. Tetapi di permukaan lautan, air terus menerus mengalir ke langit. Molekul demi molekul, air menguap dari lautan, menjenuhkan udara di atas dan membentuk awan. Saat tetesan air awan atau kristal es tumbuh lebih besar, gravitasi menariknya ke bumi dalam bentuk hujan dan salju. Air kemudian kembali ke lautan, melalui aliran sungai.
Sejak 3.000 tahun yang lalu hingga awal abad ke-19, permukaan air laut hampir tetap. Sejak tahun 1900, pemanasan global menyebabkan permukaan laut naik antara 1 hingga 3 mm/tahun. Tiga alasan utama pemanasan global menyebabkan naiknya permukaan laut adalah: lautan mengembang, lapisan es kehilangan es lebih cepat daripada terbentuknya salju, dan gletser di ketinggian yang lebih tinggi juga mencair.
Sebagian besar prediksi mengatakan bahwa pemanasan global akan berlanjut dan kemungkinan akan meningkat, menyebabkan kenaikan permukaan laut terus meningkat. Artinya bahwa ratusan kota pesisir akan menghadapi banjir akibat meluapnya air laut.
Sebagai konsekuensi, ketika permukaan laut mengalami kenaikan, bahkan peningkatan kecil dapat memiliki efek buruk pada habitat pesisir. Dampak yang ditimbulkan dapat menyebabkan erosi yang merusak, banjir lahan basah, kontaminasi pada akuifer dan tanah pertanian dengan garam. Selain itu, kenaikan permukaan laut menyebabkan hilangnya habitat untuk ikan, burung, dan tanaman.
Allah SWT berfirman sebagai berikut:
Dan apabila lautan dijadikan sujjirat. [Surat At-Takwir Ayat 6]
Ibnu Jarir mengutip pendapat Rabi ibnu Khaytham bahwa makna sujjirat adalah meluap. Menurut Ibnu Abbas (ra), makna sujjirat adalah berbaur satu sama lain, lautan tawar (aquifer) dan lautan asin, sehingga mereka menjadi satu lautan.
Permukaan laut yang lebih tinggi dapat menyebabkan badai dan topan yang lebih berbahaya. Badai dan topan tersebut bergerak lebih lambat dan menurunkan lebih banyak hujan, berkontribusi terhadap gelombang badai yang lebih kuat yang dapat melenyapkan segala sesuatu di jalan mereka. Satu studi menemukan bahwa antara tahun 1963 dan 2012, hampir setengah dari semua kematian akibat badai Atlantik disebabkan oleh gelombang badai. Banjir di daerah dataran rendah pada akhirnya memaksa orang untuk bermigrasi ke tempat yang lebih tinggi, dan jutaan lainnya rentan terhadap risiko banjir dan dampak perubahan iklim lainnya.
Laporan khusus terbaru dari Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim mengatakan bahwa permukaan laut naik antara 26 hingga 77 sentimeter pada tahun 2100 dengan suhu menghangat 1,5 ° Celsius. Perubahan tersebut secara serius mempengaruhi banyak kota di sepanjang Pantai Timur Amerika. Analisis lain yang didasarkan pada data NASA dan Eropa memprediksi kenaikan permukaan laut hingga 65 sentimeter pada akhir abad ini jika perubahan iklim terus terjadi.
National Climate Assessment 2017 bahkan menemukan bahwa kenaikan 2,4 meter dimungkinkan pada tahun 2100. Berdasarkan simulasi, hampir semua Pesisir Timur Amerika menghilang di bawah laut, sementara Amerika bagian tengah relatif kering. Pengurangan wilayah daratan juga terjadi di Pesisir Timur Britania, Asia Tenggara, Cina, Eropa dan Afrika Barat. Wallaahu a’lam bishawaab.
Sumber:
King Saud University - Tafsir As-Sa'di & Tafsir Al-Tabari.
National Geographic - Sea level rise, explained.
Newsday - HOW COME? Rivers may flow, but oceans will never overflow.
Quranx - Tafsir Ibnu Abbas.
Thesun - TIDAL TERROR, Sea level ‘doomsday’ simulator reveals whether YOUR home would be wiped out by rising oceans.
Wikipedia - Kenaikan permukaan laut.
![]() |
| Grafik yang memperlihatkan kenaikan permukaan air laut dari tahun 1993-2018. (Wikimedia) |
Allah SWT berfirman sebagai berikut:
Dan laut yang masjur. Sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi, tidak seorangpun yang dapat menolaknya. [Surat At-Tur Ayat 6-8]
Ibnu Jarir mengutip pendapat Qatadah bin an-Nu'man (ra) bahwa yang dimaksud dengan masjur adalah penuh. Menurut pendapat Imam Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di, makna ayat diatas adalah laut diisi dengan air, telah dilarang dan dicegah oleh Allah SWT agar tidak meluap di muka bumi. Dapat disimpulkan bahwa masjur adalah kondisi air yang senantiasa tetap penuh. Tidak berkurang tetapi juga tidak meluap.
Mengapa air laut tidak pernah meluap?
Pikirkan laut sebagai air mancur yang ada di pusat kota. Pada air mancur, air terus-menerus disemprotkan ke baskom yang luas. Tapi baskom tidak meluap, karena air yang sudah keluar dari pancuran ditarik keatas untuk menyembur kembali dari puncak air mancur. Air di air mancur secara terus menerus didaur ulang.
Daur ulang serupa terjadi di lautan. Air hujan turun di darat dan mengalir ke laut. Tetapi di permukaan lautan, air terus menerus mengalir ke langit. Molekul demi molekul, air menguap dari lautan, menjenuhkan udara di atas dan membentuk awan. Saat tetesan air awan atau kristal es tumbuh lebih besar, gravitasi menariknya ke bumi dalam bentuk hujan dan salju. Air kemudian kembali ke lautan, melalui aliran sungai.
Sejak 3.000 tahun yang lalu hingga awal abad ke-19, permukaan air laut hampir tetap. Sejak tahun 1900, pemanasan global menyebabkan permukaan laut naik antara 1 hingga 3 mm/tahun. Tiga alasan utama pemanasan global menyebabkan naiknya permukaan laut adalah: lautan mengembang, lapisan es kehilangan es lebih cepat daripada terbentuknya salju, dan gletser di ketinggian yang lebih tinggi juga mencair.
Sebagian besar prediksi mengatakan bahwa pemanasan global akan berlanjut dan kemungkinan akan meningkat, menyebabkan kenaikan permukaan laut terus meningkat. Artinya bahwa ratusan kota pesisir akan menghadapi banjir akibat meluapnya air laut.
Sebagai konsekuensi, ketika permukaan laut mengalami kenaikan, bahkan peningkatan kecil dapat memiliki efek buruk pada habitat pesisir. Dampak yang ditimbulkan dapat menyebabkan erosi yang merusak, banjir lahan basah, kontaminasi pada akuifer dan tanah pertanian dengan garam. Selain itu, kenaikan permukaan laut menyebabkan hilangnya habitat untuk ikan, burung, dan tanaman.
Allah SWT berfirman sebagai berikut:
Dan apabila lautan dijadikan sujjirat. [Surat At-Takwir Ayat 6]
Ibnu Jarir mengutip pendapat Rabi ibnu Khaytham bahwa makna sujjirat adalah meluap. Menurut Ibnu Abbas (ra), makna sujjirat adalah berbaur satu sama lain, lautan tawar (aquifer) dan lautan asin, sehingga mereka menjadi satu lautan.
Permukaan laut yang lebih tinggi dapat menyebabkan badai dan topan yang lebih berbahaya. Badai dan topan tersebut bergerak lebih lambat dan menurunkan lebih banyak hujan, berkontribusi terhadap gelombang badai yang lebih kuat yang dapat melenyapkan segala sesuatu di jalan mereka. Satu studi menemukan bahwa antara tahun 1963 dan 2012, hampir setengah dari semua kematian akibat badai Atlantik disebabkan oleh gelombang badai. Banjir di daerah dataran rendah pada akhirnya memaksa orang untuk bermigrasi ke tempat yang lebih tinggi, dan jutaan lainnya rentan terhadap risiko banjir dan dampak perubahan iklim lainnya.
![]() |
| Ilustrasi yang menunjukkan berkurangnya daratan akibat kenaikan permukaan air laut. (Giphy) |
National Climate Assessment 2017 bahkan menemukan bahwa kenaikan 2,4 meter dimungkinkan pada tahun 2100. Berdasarkan simulasi, hampir semua Pesisir Timur Amerika menghilang di bawah laut, sementara Amerika bagian tengah relatif kering. Pengurangan wilayah daratan juga terjadi di Pesisir Timur Britania, Asia Tenggara, Cina, Eropa dan Afrika Barat. Wallaahu a’lam bishawaab.
Sumber:
King Saud University - Tafsir As-Sa'di & Tafsir Al-Tabari.
National Geographic - Sea level rise, explained.
Newsday - HOW COME? Rivers may flow, but oceans will never overflow.
Quranx - Tafsir Ibnu Abbas.
Thesun - TIDAL TERROR, Sea level ‘doomsday’ simulator reveals whether YOUR home would be wiped out by rising oceans.
Wikipedia - Kenaikan permukaan laut.

