Salah satu peninggalan budaya dari orang-orang pada zaman kuno adalah adanya makhluk legendaris atau mitologis. Definisi makhluk mitologis adalah hewan fiktif, imajiner, dan supernatural, yang keberadaannya belum atau tidak dapat dibuktikan. Selain itu, makhluk mitologis belum atau tidak dapat dijelaskan baik dalam cerita rakyat atau dalam catatan sejarah. Beberapa makhluk legendaris memiliki asal mula dalam mitologi tradisional dan diyakini sebagai makhluk nyata, misalnya adalah naga.
Dalam berbagai peradaban, naga dikenal dengan nama dragon (Inggris), draken (Skandinavia) dan Liong (Tiongkok). Naga merupakan monster legendaris yang biasanya digambarkan sebagai kadal besar, bersayap kelelawar, kadang dapat menyemburkan api. Sering juga digambarkan sebagai ular dengan ekor berduri. Habitatnya berada di seluruh ruang (air, darat, udara). Meskipun penggambaran wujudnya berbeda-beda, namun secara umum spesifikasi makhluk tersebut digambarkan sebagai makhluk sakti.
Beberapa peradaban menjadikan naga terbatas pada sistem kepercayaan. Dalam puisi bangsa Sumeria, raja-raja besar sering dibandingkan dengan ušumgal, monster raksasa dalam wujud naga. Selain ušumgal, terdapat makhluk yang dikenal dalam bahasa Akkadia sebagai mušḫuššu. Makhluk ini digunakan sebagai simbol untuk dewa-dewa tertentu dan juga sebagai lambang pelindung secara umum. Menurut mitologi Mesir, Apep adalah naga raksasa yang tinggal di Duat, Dunia Bawah Mesir. Adapun menurut naskah Mahabharata (India) dikisahkan bahwa para naga merupakan anak-anak Resi Kasyapa berjumlah seribu dari perkawinannya dengan Dewi Kadru. Nama-nama mereka yang terkenal antara lain Sesa, Taksaka, Vāsuki, Karkotaka, Korawya, dan Dritarastra.
Walaupun demikian, beberapa literatur sejarah menunjukkan bahwa naga benar-benar ada di bumi. Menurut koleksi buku karya Claudius Aelianus yang berjudul On Animals, Ethiopia pada zaman dahulu dihuni oleh spesies naga yang memburu gajah dan bisa tumbuh hingga panjang 180 kaki (55 meter). Naga tersebut dikatakan memiliki usia hidup yang lebih lama dibanding hewan apapun yang ada di bumi. Claudius Aelianus (175 - 235 AD) adalah seorang penulis dan guru retorika Romawi yang hidup pada zaman kaisar Septimius Severus. Karya-karyanya sangat berharga sekaligus menawarkan pandangan tak terduga ke dalam pandangan dunia Yunani-Romawi.
Keberadaan naga dalam khazanah keilmuan Islam terdapat dalam kitab ʿAjā'ib al-makhlūqāt wa gharā'ib al-mawjūdāt (Bahasa Arab: عجائب المخلوقات وغرائب الموجودات, artinya keajaiban makhluk-makhluk dan benda-benda aneh yang ada). Kitab tersebut ditulis dalam bahasa Arab oleh Zakariya al-Qazwini (1203–1283 Masehi) dan merupakan karya penting dalam kosakata al-Quran.
Al-Qur'an sendiri memberi petunjuk mengenai kemungkinan adanya makhluk hidup di bumi yang masih misterius:
Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya. [Surat An-Nahl Ayat 8]
Tafsir Jalalayn memaknai "menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya" sebagai hal-hal luar biasa dan aneh. Menurut keterangan dari tafsir Qurtubi, hal-hal luar biasa dan aneh misalnya seperti serangga dan panda di dasar bumi dan laut, yang tidak terlihat oleh manusia dan belum pernah mendengarnya. Keterangan tersebut hanya sebagai contoh, mengingat panda hanya hidup di beberapa pegunungan di Cina tengah. Jazirah Arab sendiri pada zaman dahulu adalah habitat bagi makhluk seperti singa dan naga hitam. Keberadaan dua makhluk buas tersebut sudah tidak dapat kita temukan lagi pada zaman sekarang.
Ibnu Umar (ra) meriwayatkan sebagai berikut:
Setiap kali Rasulullah (ﷺ) berangkat dalam sebuah perjalanan, beliau akan berkata pada malam hari: "Ya ardu, Rabi wa Rabbuk-illahu, a'udhu billahi min sharriki wa sharri ma fiki, wa sharri ma khuliqa fiki, wa sharri ma yadibbu 'alaiki; a'udhu billahi min sharri asadin wa aswadin, wa minal-hayyati wal-'aqrabi, wa min sakinil-baladi, wa min walidin wa ma walad [Wahai tanah, Rubb saya dan Rubb Anda adalah Allah, saya mencari perlindungan di dalam Dia dari kejahatan Anda, kejahatan dari apa yang Anda miliki, kejahatan dari apa yang telah dibuat dalam diri Anda, dan kejahatan dari apa yang berjalan di atas Anda. Saya mencari perlindungan kepada Allah dari singa, naga hitam, kalajengking dan dari penduduk setempat, dan dari orang tua (yaitu, Setan) dan keturunannya yang mendiami pemukiman (yaitu, pembantu dari antara iblis)]. " (Riyad as-Salihin, Book 8, Hadith 983)
Pada tahun 2016, sebuah dokumentasi menunjukkan adanya makhluk terbang misterius yang sangat mirip dengan naga. Makhluk aneh tersebut terekam di wilayah Cina dan Amerika Serikat.
Secara ilmiah, terdapat dua aspek yang menunjukkan bahwa naga mampu untuk terbang. Aspek pertama adalah sayap. Berdasarkan simulasi, naga mampu terbang secara optimal dengan sayap pendek dan lebar dibandingkan dengan ukuran tubuhnya untuk kemampuan manuver yang lebih baik di lingkungan hutan. Mereka juga memiliki ekor yang lebih panjang untuk mengimbangi kemampuan terbang pada sayap. Aspek kedua adalah ukuran. Ukuran naga sebanding dengan ukuran dinosaurus besar, dan kemungkinan naga itu akan berevolusi dengan mekanisme serupa untuk meringankan massa tubuhnya. Burung mengurangi berat dengan menjadikan tubuh mereka penuh dengan ruang udara yang terhubung ke paru-paru, beberapa di antaranya bahkan meluas ke tulang. Dinosaurus dibangun dengan cara yang sama. Ada penelitian yang mengungkap bahwa konstruksi paru-paru yang terhubung ke sistem kantung udara yang membentang di seluruh anatomi hewan, ditemukan sangat umum pada reptil seperti buaya. Menurut peneliti, naga mungkin 'melayang' seperti balon dan tidak terikat oleh aerodinamika.
Sosok naga di dunia barat digambarkan sebagai monster, cenderung merusak dan bersekutu dengan kekuatan gelap. Dicitrakan sebagai makhluk antagonis yang seharusnya dihancurkan. Seseorang bisa mendapat gelar pahlawan atau ksatria dengan membunuh naga. Dengan kata lain, naga adalah ancaman bagi manusia.
Tubero dalam Histories-nya mencatat tentang adanya naga dalam perang Punisia pertama (perang antara Romawi melawan Kartago pada 264 hingga 241 SM). Pada saat itu Romawi dipimpin oleh panglima Atilius Regulus. Ketika sedang berkemah di sungai Bagradas di Afrika, pasukan Romawi bertemu dan bertempur habis-habisan dengan seekor naga yang memiliki ukuran luar biasa. Makhluk tersebut memiliki sarang tidak jauh dari wilayah pertempuran. Pergulatan hebat terjadi dengan seluruh pasukan menyerang untuk waktu yang lama. Mereka akhirnya dapat mengalahkan naga dengan menggunakan artileri berat seperti ballista dan catapult. Setelah terbunuh, pasukan Romawi mengambil kulit naga itu lalu dikirim ke Roma. Diperkirakan bahwa makhluk tersebut memiliki panjang 36,5 meter. Menurut catatan sejarah, Atilius Regulus membawa 15.500 pasukan saat berangkat dari Roma menuju wilayah Kartago.
Berbeda dengan barat, Naga versi Tionghoa dianggap sebagai simbol kekuatan alam, khususnya angin topan. Pada umumnya makhluk ini dianggap memiliki sifat yang baik selama ia selalu dihormati. Naga dianggap sebagai penjelmaan roh orang suci yang belum bisa masuk surga. Biasanya roh orang suci menjelma dalam bentuk naga kecil dan menyusup ke dalam bumi untuk menjalani tidur dalam waktu lama. Setelah tubuhnya membesar, ia bangun dan terbang menuju surga. Naga juga diidentikkan dengan Kaisar Cina. Selama sejarah kekaisaran Cina kemudian, kaisar adalah satu-satunya orang yang diizinkan memiliki naga di rumahnya, pakaian, atau barang-barang pribadi.
Naga biasanya diceritakan tinggal di gua, perairan yang dalam, pegunungan, dasar laut serta hutan angker. Intinya adalah semua tempat yang penuh dengan bahaya bagi manusia pada zaman kuno. Wallaahu a’lam bishawaab.
Sumber:
Discover Magazine - The Science Behind Mythical Dragons.
King Saud University - Tafsir Qurtubi.
Quranx - Tafsir Jalalayn.
Sunnah - Riyad as-Salihin.
The Morgan - Bahrām Gūr Slays a Dragon.
Theoi - Drakon Aithiopikos.
University of Chicago - Gellius
Attic Nights.
| Lukisan yang menggambarkan Bahram Gūr membunuh seekor naga. Bahram Gūr (406-438 AD) adalah raja dari dinasti Sasaniyah. (Picryl) |
Beberapa peradaban menjadikan naga terbatas pada sistem kepercayaan. Dalam puisi bangsa Sumeria, raja-raja besar sering dibandingkan dengan ušumgal, monster raksasa dalam wujud naga. Selain ušumgal, terdapat makhluk yang dikenal dalam bahasa Akkadia sebagai mušḫuššu. Makhluk ini digunakan sebagai simbol untuk dewa-dewa tertentu dan juga sebagai lambang pelindung secara umum. Menurut mitologi Mesir, Apep adalah naga raksasa yang tinggal di Duat, Dunia Bawah Mesir. Adapun menurut naskah Mahabharata (India) dikisahkan bahwa para naga merupakan anak-anak Resi Kasyapa berjumlah seribu dari perkawinannya dengan Dewi Kadru. Nama-nama mereka yang terkenal antara lain Sesa, Taksaka, Vāsuki, Karkotaka, Korawya, dan Dritarastra.
Walaupun demikian, beberapa literatur sejarah menunjukkan bahwa naga benar-benar ada di bumi. Menurut koleksi buku karya Claudius Aelianus yang berjudul On Animals, Ethiopia pada zaman dahulu dihuni oleh spesies naga yang memburu gajah dan bisa tumbuh hingga panjang 180 kaki (55 meter). Naga tersebut dikatakan memiliki usia hidup yang lebih lama dibanding hewan apapun yang ada di bumi. Claudius Aelianus (175 - 235 AD) adalah seorang penulis dan guru retorika Romawi yang hidup pada zaman kaisar Septimius Severus. Karya-karyanya sangat berharga sekaligus menawarkan pandangan tak terduga ke dalam pandangan dunia Yunani-Romawi.
Keberadaan naga dalam khazanah keilmuan Islam terdapat dalam kitab ʿAjā'ib al-makhlūqāt wa gharā'ib al-mawjūdāt (Bahasa Arab: عجائب المخلوقات وغرائب الموجودات, artinya keajaiban makhluk-makhluk dan benda-benda aneh yang ada). Kitab tersebut ditulis dalam bahasa Arab oleh Zakariya al-Qazwini (1203–1283 Masehi) dan merupakan karya penting dalam kosakata al-Quran.
Al-Qur'an sendiri memberi petunjuk mengenai kemungkinan adanya makhluk hidup di bumi yang masih misterius:
Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya. [Surat An-Nahl Ayat 8]
Tafsir Jalalayn memaknai "menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya" sebagai hal-hal luar biasa dan aneh. Menurut keterangan dari tafsir Qurtubi, hal-hal luar biasa dan aneh misalnya seperti serangga dan panda di dasar bumi dan laut, yang tidak terlihat oleh manusia dan belum pernah mendengarnya. Keterangan tersebut hanya sebagai contoh, mengingat panda hanya hidup di beberapa pegunungan di Cina tengah. Jazirah Arab sendiri pada zaman dahulu adalah habitat bagi makhluk seperti singa dan naga hitam. Keberadaan dua makhluk buas tersebut sudah tidak dapat kita temukan lagi pada zaman sekarang.
Ibnu Umar (ra) meriwayatkan sebagai berikut:
Setiap kali Rasulullah (ﷺ) berangkat dalam sebuah perjalanan, beliau akan berkata pada malam hari: "Ya ardu, Rabi wa Rabbuk-illahu, a'udhu billahi min sharriki wa sharri ma fiki, wa sharri ma khuliqa fiki, wa sharri ma yadibbu 'alaiki; a'udhu billahi min sharri asadin wa aswadin, wa minal-hayyati wal-'aqrabi, wa min sakinil-baladi, wa min walidin wa ma walad [Wahai tanah, Rubb saya dan Rubb Anda adalah Allah, saya mencari perlindungan di dalam Dia dari kejahatan Anda, kejahatan dari apa yang Anda miliki, kejahatan dari apa yang telah dibuat dalam diri Anda, dan kejahatan dari apa yang berjalan di atas Anda. Saya mencari perlindungan kepada Allah dari singa, naga hitam, kalajengking dan dari penduduk setempat, dan dari orang tua (yaitu, Setan) dan keturunannya yang mendiami pemukiman (yaitu, pembantu dari antara iblis)]. " (Riyad as-Salihin, Book 8, Hadith 983)
Pada tahun 2016, sebuah dokumentasi menunjukkan adanya makhluk terbang misterius yang sangat mirip dengan naga. Makhluk aneh tersebut terekam di wilayah Cina dan Amerika Serikat.
Secara ilmiah, terdapat dua aspek yang menunjukkan bahwa naga mampu untuk terbang. Aspek pertama adalah sayap. Berdasarkan simulasi, naga mampu terbang secara optimal dengan sayap pendek dan lebar dibandingkan dengan ukuran tubuhnya untuk kemampuan manuver yang lebih baik di lingkungan hutan. Mereka juga memiliki ekor yang lebih panjang untuk mengimbangi kemampuan terbang pada sayap. Aspek kedua adalah ukuran. Ukuran naga sebanding dengan ukuran dinosaurus besar, dan kemungkinan naga itu akan berevolusi dengan mekanisme serupa untuk meringankan massa tubuhnya. Burung mengurangi berat dengan menjadikan tubuh mereka penuh dengan ruang udara yang terhubung ke paru-paru, beberapa di antaranya bahkan meluas ke tulang. Dinosaurus dibangun dengan cara yang sama. Ada penelitian yang mengungkap bahwa konstruksi paru-paru yang terhubung ke sistem kantung udara yang membentang di seluruh anatomi hewan, ditemukan sangat umum pada reptil seperti buaya. Menurut peneliti, naga mungkin 'melayang' seperti balon dan tidak terikat oleh aerodinamika.
Sosok naga di dunia barat digambarkan sebagai monster, cenderung merusak dan bersekutu dengan kekuatan gelap. Dicitrakan sebagai makhluk antagonis yang seharusnya dihancurkan. Seseorang bisa mendapat gelar pahlawan atau ksatria dengan membunuh naga. Dengan kata lain, naga adalah ancaman bagi manusia.
Tubero dalam Histories-nya mencatat tentang adanya naga dalam perang Punisia pertama (perang antara Romawi melawan Kartago pada 264 hingga 241 SM). Pada saat itu Romawi dipimpin oleh panglima Atilius Regulus. Ketika sedang berkemah di sungai Bagradas di Afrika, pasukan Romawi bertemu dan bertempur habis-habisan dengan seekor naga yang memiliki ukuran luar biasa. Makhluk tersebut memiliki sarang tidak jauh dari wilayah pertempuran. Pergulatan hebat terjadi dengan seluruh pasukan menyerang untuk waktu yang lama. Mereka akhirnya dapat mengalahkan naga dengan menggunakan artileri berat seperti ballista dan catapult. Setelah terbunuh, pasukan Romawi mengambil kulit naga itu lalu dikirim ke Roma. Diperkirakan bahwa makhluk tersebut memiliki panjang 36,5 meter. Menurut catatan sejarah, Atilius Regulus membawa 15.500 pasukan saat berangkat dari Roma menuju wilayah Kartago.
Berbeda dengan barat, Naga versi Tionghoa dianggap sebagai simbol kekuatan alam, khususnya angin topan. Pada umumnya makhluk ini dianggap memiliki sifat yang baik selama ia selalu dihormati. Naga dianggap sebagai penjelmaan roh orang suci yang belum bisa masuk surga. Biasanya roh orang suci menjelma dalam bentuk naga kecil dan menyusup ke dalam bumi untuk menjalani tidur dalam waktu lama. Setelah tubuhnya membesar, ia bangun dan terbang menuju surga. Naga juga diidentikkan dengan Kaisar Cina. Selama sejarah kekaisaran Cina kemudian, kaisar adalah satu-satunya orang yang diizinkan memiliki naga di rumahnya, pakaian, atau barang-barang pribadi.
Naga biasanya diceritakan tinggal di gua, perairan yang dalam, pegunungan, dasar laut serta hutan angker. Intinya adalah semua tempat yang penuh dengan bahaya bagi manusia pada zaman kuno. Wallaahu a’lam bishawaab.
Sumber:
Discover Magazine - The Science Behind Mythical Dragons.
King Saud University - Tafsir Qurtubi.
Quranx - Tafsir Jalalayn.
Sunnah - Riyad as-Salihin.
The Morgan - Bahrām Gūr Slays a Dragon.
Theoi - Drakon Aithiopikos.
University of Chicago - Gellius
Attic Nights.