Minyak zaitun memiliki keunikan yang dikenal dengan nama fluoresensi. Definisi fluoresensi adalah cahaya yang dilepaskan oleh benda tertentu setelah menyerap cahaya atau radiasi elektromagnetik lainnya. Pertama, benda tersebut menyerap energi, lalu memancarkan cahaya. Ketika sumber cahaya dihilangkan, fluoresensi berhenti terjadi.
Dalam kebanyakan kasus, cahaya yang dilepaskan memiliki panjang gelombang yang lebih panjang serta energi yang lebih rendah dibanding dengan cahaya yang diserap. Perbedaan panjang gelombang dan tingkat energi menghasilkan warna pada cahaya yang dapat dilihat oleh mata manusia. Penelitian menunjukkan bahwa minyak zaitun murni berpendar dengan warna kuning ketika terkena sinar ultra violet sebagai sumber cahaya. Adapun minyak zaitun olahan berpendar dengan warna biru ketika mendapat perlakuan yang sama.
Allah SWT berfirman sebagai berikut:
Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan kawkab (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. [Surat An-Nur Ayat 35]
Dalam ayat diatas terdapat kalimat: yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api (يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ). Menurut Ibnu Abbas (ra), maksud kalimat tersebut adalah minyak zaitun hampir menyala (berpendar) sebelum api menyentuhnya. Ketika minyak sudah disentuh oleh api, akan ada cahaya tambahan pada cahaya yang sudah ada. Karena itu, nyala api dibutuhkan sebagai sumber cahaya. Sama seperti matahari, api memancarkan gelombang pendek ultra violet dalam spektrum emisinya.
Allah SWT menggunakan analogi lampu kaca berisi minyak zaitun sebagai kawkab. Dalam artikel sebelumnya, kawkab (الْكَوَاكِبِ) didefinisikan sebagai benda langit yang bersinar karena sumber cahaya dari benda langit lain. Menurut Ibnu Abbas, kawkab adalah salah satu dari lima planet: Merkurius, Jupiter, Venus, Mars dan Saturnus. Venus merupakan salah satu objek paling terang di langit malam. Planet tersebut sangat terang karena awan tebalnya memantulkan sebagian besar sinar matahari (sekitar 70%) kembali ke ruang angkasa. Selain itu juga merupakan planet terdekat dengan Bumi.
Peradaban kekaisaran Romawi Timur
Pada permulaan abad pertengahan, peradaban manusia dari berbagai penjuru dunia menggunakan lampu minyak sebagai alat penerangan mereka. Lampu minyak adalah objek yang digunakan untuk menghasilkan cahaya terus menerus selama periode waktu menggunakan sumber bahan bakar berbasis minyak. Umumnya wadah yang mereka gunakan terbuat dari pahatan batu, pahatan kayu, dan tembikar. Kekaisaran Romawi Timur, bagaimanapun, telah mampu membuat wadah lampu minyak dari kaca.
Lampu kaca pertama kali diproduksi secara massal pada awal abad ke-4 Masehi. Sebagian besar berbentuk kerucut dan cukup besar. Lampu-lampu tersebut dapat menampung lebih banyak minyak dibanding dengan lampu tembikar tradisional pada masa itu, dan karenanya menyala jauh lebih lama. Cahaya yang dihasilkan 60% lebih banyak, jika sumbu pada lampu dirawat dengan baik.
Beberapa jenis lampu kaca memiliki batang yang panjang, yang lain memiliki batang yang pendek; beberapa memiliki mulut terbuka lebar, yang lain memiliki mulut yang sempit. Beberapa lampu berbentuk mangkuk ditambahkan tabung kaca kecil dalam posisi tegak yang berfungsi sebagai tempat sumbu, memastikan nyala api tetap stabil.
Lampu kaca pada gambar diatas merupakan lampu gantung (digantung di langit-langit). Kekaisaran Romawi Timur biasanya membakar minyak zaitun untuk penerangan. Lampu yang terbuat dari kaca lebih mahal dibanding dengan, misalnya, lampu dari tembikar. Kemungkinan digunakan untuk menerangi bagian terpenting dari sebuah gereja, seperti altar atau nave. Menyalakan lampu kaca itu mahal, jadi banyak donatur yang dermawan memberi sumbangan kepada gereja agar dapat menyalakan lampu. Kaisar Constantine, misalnya, menyumbangkan pendapatan dari tujuh perkebunan besar khusus untuk pemeliharaan 174 lampu, polkandela, dan kandil di Basilika Saint John Lateran di Roma.
Menurut penjelasan dalam tafsir al-Baghawi, makna kalimat "pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat" adalah wilayah levant. Lampu kaca dalam gambar diatas berasal dari wilayah mediterania timur dan dibuat pada kurun waktu antara 501-600 Masehi. Levant pada dasarnya adalah mediterania timur tanpa Siprus.
Kesimpulan
Makna "cahaya diatas cahaya" adalah dua jenis cahaya dalam satu alat penerangan. Pertama adalah cahaya dari minyak zaitun yang berpendar atau fluoresensi. Kedua adalah cahaya dari nyala api atau dikenal dengan istilah incandescence.
Incandescence adalah emisi radiasi elektromagnetik dari benda panas akibat suhunya. Biasanya merujuk secara khusus pada cahaya yang dapat dilihat oleh mata manusia. Dalam istilah yang lebih sederhana, incandescence adalah cahaya dari panas. Cahaya api merupakan salah satu contoh incandescence. Ketika sebuah benda terbakar oleh api, atom-atom karbon pada benda itu memancarkan cahaya. Efek "panas menghasilkan cahaya" ini disebut incandescence. Wallaahu a’lam bishawaab.
Sumber:
ACS Publications - Fluorescence of Olive Oil under Ultra-Violet Light.
Art Institute of Chicago - Lamp.
California Institute of Technology - Why is Venus so bright in the night sky?
Howstuffworks - How fire works?
King Saud University - Tafsir al-Baghawi.
Quora - Does fire produce UV light?
Quranx - Tafsir Ibnu Abbas.
University of Pennsylvania Museum of Archaeology and Anthropology - New Shapes in Church Lamps.
Wikipedia - Fluorescence, Incandescence, Oil lamp.
| Ilustrasi fluoresensi. (Wikimedia) |
Allah SWT berfirman sebagai berikut:
Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan kawkab (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. [Surat An-Nur Ayat 35]
Dalam ayat diatas terdapat kalimat: yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api (يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ). Menurut Ibnu Abbas (ra), maksud kalimat tersebut adalah minyak zaitun hampir menyala (berpendar) sebelum api menyentuhnya. Ketika minyak sudah disentuh oleh api, akan ada cahaya tambahan pada cahaya yang sudah ada. Karena itu, nyala api dibutuhkan sebagai sumber cahaya. Sama seperti matahari, api memancarkan gelombang pendek ultra violet dalam spektrum emisinya.
Allah SWT menggunakan analogi lampu kaca berisi minyak zaitun sebagai kawkab. Dalam artikel sebelumnya, kawkab (الْكَوَاكِبِ) didefinisikan sebagai benda langit yang bersinar karena sumber cahaya dari benda langit lain. Menurut Ibnu Abbas, kawkab adalah salah satu dari lima planet: Merkurius, Jupiter, Venus, Mars dan Saturnus. Venus merupakan salah satu objek paling terang di langit malam. Planet tersebut sangat terang karena awan tebalnya memantulkan sebagian besar sinar matahari (sekitar 70%) kembali ke ruang angkasa. Selain itu juga merupakan planet terdekat dengan Bumi.
Peradaban kekaisaran Romawi Timur
Pada permulaan abad pertengahan, peradaban manusia dari berbagai penjuru dunia menggunakan lampu minyak sebagai alat penerangan mereka. Lampu minyak adalah objek yang digunakan untuk menghasilkan cahaya terus menerus selama periode waktu menggunakan sumber bahan bakar berbasis minyak. Umumnya wadah yang mereka gunakan terbuat dari pahatan batu, pahatan kayu, dan tembikar. Kekaisaran Romawi Timur, bagaimanapun, telah mampu membuat wadah lampu minyak dari kaca.
![]() |
| Kekaisaran Romawi Timur menggunakan lampu kaca berbahan bakar minyak zaitun sebagai alat penerangan. (Art Institute of Chicago) |
Beberapa jenis lampu kaca memiliki batang yang panjang, yang lain memiliki batang yang pendek; beberapa memiliki mulut terbuka lebar, yang lain memiliki mulut yang sempit. Beberapa lampu berbentuk mangkuk ditambahkan tabung kaca kecil dalam posisi tegak yang berfungsi sebagai tempat sumbu, memastikan nyala api tetap stabil.
Menurut penjelasan dalam tafsir al-Baghawi, makna kalimat "pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat" adalah wilayah levant. Lampu kaca dalam gambar diatas berasal dari wilayah mediterania timur dan dibuat pada kurun waktu antara 501-600 Masehi. Levant pada dasarnya adalah mediterania timur tanpa Siprus.
Kesimpulan
Makna "cahaya diatas cahaya" adalah dua jenis cahaya dalam satu alat penerangan. Pertama adalah cahaya dari minyak zaitun yang berpendar atau fluoresensi. Kedua adalah cahaya dari nyala api atau dikenal dengan istilah incandescence.
![]() |
| Ilustrasi salah satu contoh Incandescence. (Wikimedia) |
Sumber:
ACS Publications - Fluorescence of Olive Oil under Ultra-Violet Light.
Art Institute of Chicago - Lamp.
California Institute of Technology - Why is Venus so bright in the night sky?
Howstuffworks - How fire works?
King Saud University - Tafsir al-Baghawi.
Quora - Does fire produce UV light?
Quranx - Tafsir Ibnu Abbas.
University of Pennsylvania Museum of Archaeology and Anthropology - New Shapes in Church Lamps.
Wikipedia - Fluorescence, Incandescence, Oil lamp.








